Lama ngga meng-update blog ini. Bukan karena sibuk, justru karena ngga ada kegiatan saya jadi kehilangan inspirasi. Biasanya (dulu) sambil berjalan kuliah ke kampus, pikiran melayang-layang hingga bermunculan banyak ide untuk ditulis, untuk digali.
Oleh karenanya, praktis kegiatan saya sehari-hari hanya membaca kembali buku-buku atau novel-novel kesukaan. Salah satunya adalah Samurai karya Takashi Matsuoka. Novel yang begitu indah dan kaya akan kearifan masa lampau. Alurnya yang lincah, serta bahasanya yang pintar, semakin menambah daya magnetis novel ini.
Heiko….
Heiko yang begitu sempurna, begitu anggun, dan begitu rapuh. Sebagaimana Stark, saya juga selalu bertanya-tanya, bagaimana Genji mengingat Heiko?
Buku I – Kastel Awan Burung Gereja (Suzume no Kumo)
Menarik napas, menghembus napas
Depan, belakang
Hidup, mati;
Panah, berhamburan satu per satu
Bersua di tengah
Memecah kehampaan terbangnya yang tak bertujuan
Dan aku kembali ke segala sumber
(Gesshu Soko, 1617-1969)
Kala menyeberangi sungai asing nun jauh dari tanahmu, lihatlah riak air di permukaan, dan amati jernihnya air. Cermati pula tingkah laku kuda. Tetapi waspadai serangan tiba-tiba yang tak disangka.
Di tanahmu, di jeram yang kau kenal akrab, tajamkan pandanganmu pada bayangan-bayangan di seberang sungai, dan amati pergerakan alang-alang. Dengarkan desah napas kawan terdekatmu. Waspadalah akan adanya musuh dalam selimut.
(1491)
Sebagian orang berkata, tiada perbedaan di antara orang-orang barbar, mereka semua adalah pemakan sampah yang menjijikka. Ini sungguh keliru. Orang Portugis mau menukar senjata dengan wanita. Orang Belanda meminta emas. Orang Inggris menuntut perjanjian.
Dari semua itu, engkau tahu bahwa orang Portugis dan Belanda mudah dimengerti, sedangkan orang Inggris adalah yang paling berbahaya. Karena itu, pelajarilah orang Inggris dengan hati-hati dan abaikan orang lain.
(1641)
Kabut menyelimuti hutan di depan dan laut di belakang. Pada saat itu pula, puncak Gunung Tosa terlihat jelas bagaikan langit musim semi. Di depan, para penembak jitu bersembunyi di antara pohon dan bayangan. Di belakang, para pembunuh mengendap-endap, bergayut di kayu-kayu yang terapung.
(1701)
Keraguan menyerangmu. Kebingungan bertakhta. Kau tak bisa membedakan kemarin dan esok. Dengarkanlah hatimu dan temukan pedoman. Berdentum, seperti genderang. Menderu, seperti aliran sungai di musim dingin. Hingga akhirnya, suara dan kesunyian tak bisa dibedakan lagi.
Dengar.
Dengar
Dengar.
Darah, bukan air.
Darahmu.
(1860)
Pengetahuan bisa menghambat. Ketidaktahuan justru membebaskan. Tahu kapan untuk tahu dan kapan untuk tak tahu, ini sama pentingnya dengan pedang yang tajam.
(1434)
Tahun itu, Lord Shayo mati membeku di laut musim dingin; batang pohon yang penuh dengan bunga mekar musim semi, menghantam ahli warisnya, Lord Ryoto, hingga tewas; ahli waris selanjutnya, Lord Moritake, menjadi korban petir musim panas. Lalu, Lord Koseki menjadi ahli waris dinasti itu.
Katanya, “Aku tak bisa berbuat apa-apa mengenai cuaca.”
Saat hujan awal musim gugur tiba, dia memenggal seluruh korps pengawal, mengirim semua selir ke biara, mengasingkan sang juru masak, menikahi anak perempuan penjaga kandang kuda, dan mencanangkan perang melawan Shogun.
Lord Koseki berkuasa selama tiga puluh delapan tahun.
(1397)
Setiap pertempuran tidak selalu dimenangkan dengan maju. Mundur bukan selalu berarti kekalahan. Maju adalah strategi. Mundur juga strategi.
Mundur harus teratur. Tetapi, tak selalu harus terlihat teratur. Mundur adalah strategi. Penampilan saat mundur juga strategi.
(1600)
Ada orang percaya kemenangan berasal dari strategi ulung.
Yang lain percaya pada keberanian.
Tetapi, ada juga yang menempatkan harapan pada pertolongan dewa.
Lalu, ada mereka yang percaya pada mata-mata, pembunuh, godaan, pengkhianatan, korupsi, ketamakan, dan ketakutan.
Semua itu hanyalah khayalan karena satu alasan. Jika kau hanya memikirkan kemenangan, kau akan kehilangan hal nyata dan bergantung pada angan-angan.
Apa itu kenyataan? Ketika mata pedang masih terhunus mengancammu, dan hidupmu ada di ujung tanduk, kau akan tahu apa itu kenyataan.
Jika tidak, hidupmu hanyalah kesia-siaan.
(1599)
Lord Chamberlain berkata, “Ada perbedaan pendapat tentang apakah sifat baik itu sudah ada sejak lahir atau didapat dari pendidikan. Bagaimana menurut pandangan Anda, Tuanku?”
Lord Takanori menjawab, “Tidak ada artinya.”
Lord Chamberlain berkata lagi, “Jika sifat baik ada sejak lahir, semua latihan menjadi tidak berguna. Jika sifat baik didapatkan dari latihan, mereka dari kasta terendah dapat menyamai seorang samurai.”
Lord Takanori menjawab, “Sifat baik omong kosong. Bukan bersifat baik juga omong kosong.”
Lord Chamberlain membungkuk hormat dan mundur.
Lord Takanori kembali berkonsentrasi pada pemandangan di depannya dan melanjutkan melukis Pemandangan Pohon yang Menghalangi Nona Shiroku yang Sedang Mandi.
(1817)
Katana telah menjadi senjata samurai sejak zaman dahulu. Renungkan makna dari pedang itu.
Mata pedang itu hanya ditajamkan di satu sisi. Mengapa? Karena jika mata yang tumpul menekan daging, katana menjadi perisai. Ini tak mungkin terjadi pada pedang bermata dua. Suatu hari nanti, di tengah-tengah pertempuran, mungkin saja kau berutang nyawa pada mata pedang yang tumpul. Biarkan kontradiksi ini mengingatkanmu bahwa sesungguhnya serangan dan pertahanan itu adalah satu.
Pedang kita melengkung, tidak lurus. Mengapa? Karena dalam serangan kavaleri, pedang melengkung lebih efisien daripada pedang yang lurus. Biarkan aspek lengkungan pedang ini mengingatkanmu bahwa pada dasarnya samurai adalah prajurit berkuda. Bahkan pada saat berjalan pun posisikan dirimu seakan-akan aku menunggangi seekor kuda perang yang marah.
Satukan dua kenyataan ini ke dalam dirimu, maka hidupmu akan menjadi penuh makna, dana kematianmu akan menjadi kematian yang terhormat.
(1334)
Dari sudut pandang strategis, tentu saja aku harus menyesali kekalahan kita dalam peperangan. Kekalahan tak pernah bisa diterima dengan mudah. Tetapi, aku tak bisa mengelak mengakui bahwa dari sudut pandang estetis, tidak mungkin ada hasil peperangan yang lebih indah dari ini.
Putihnya salju yang turun perlahan. Merahnya darah yang tertumpah. Apakah ada putih yang lebih putih, atau merah yang lebih merah, salju yang lebih dingin, atau darah yang lebih hangat?
(1551)
Dapatkah kau bersikap seperti orang buta di depan sebuah lukisan, orang tulis di tengah alunan musik, dan orang mati di tengah perjamuan?
Jika kau tak dapat melakukannya, buang saja katana dan wakizashimu, busur panjangmu, panahmu yang berhias bulu elang, kuda perangmu, perisaimu, dan namamu. Kau tak punya disiplin untuk menjadi samurai. Lebih baik kau jadi petani, pendeta, atau pedagang saja.
Dan juga, hindari wanita cantik. Mereka terlalu berbahaya untukmu.
(1777)
Hikayat mengatakan, kebahagiaan dan duka pada dasarnya adalah satu. Apakah itu karena saat mengetahui bahagia, kita juga jadi tahu apa itu duka?
(1861)
Saat menyerang, tunggulah waktu yang tepat. Saat menunggu, bersikaplah seperti batu besar yang ada di pinggir ngarai lereng yang terjal.
Dan ketika waktu yang tepat muncul, lebarkan diri dalam serangan seperti batu besar menggelinding dari ngarai yang terjal menuju laut.
(1344)
Kata-kata dapat melukai. Diam dapat menyembuhkan. Tahu kapan saat untuk bicara dan kapan saatnya diam adalah kearifan seperti yang diceritakan hikayat.
Pengetahuan dapat menghambat. Ketidaktahuan justru dapat membebaskan. Tahu kapan saatnya untuk tahu dan kapans aatnya untuk tak tahu adalah kearifan para nabi dan kaum bijak.
Tak terganggu oleh kata-kata, kediaman, pengetahuan, atau ketidaktahuan, sebilah pedang tajam menebas tajam. Ini adalah kearifan seorang prajurit.
(1434)
Di ranjang kematiannya, Lord Yakuo menerima kunjungan dari Pater Vierra. Pater Vierra menanyakan apa hal yang paling disesali Lord Yakuo sepanjang hidupnya.
Lord Yakuo tersenyum.
Gigih, seperti kebiasaan pendeta Kristen dalam hal ini, Pater Vierra bertanya apakah ada hal yang pernah dia lakukan atau yang belum dia lakukan yang disesali Lord Yakuo.
Lord Yakuo berkata, penyesalan adalah obat bagi para penyair. Dia menjalani hidup keras seorang prajurit yang tak peduli akan kata-kata dan akan mati sebagai seorang seorang prajurit pula.
Pater Vierra, melihat senyum di bibir Lord Yakuo, bertanya apakah dia menyesal telah menjadi prajurit dan bukan penyair.
Lord Yakuo terus tersenyum, tetapi tak menjawab.
Saat Pater Vierra bertanya, Lord Yakuo telah memasuki Tanah Murni.
(1615)
Para Dewa dan Buddha, leluhur dan hantu, setan dan malaikat, tak satu pun dari mereka dapat menjalani hidupmu atau mengalami kematianmu. Tak juga kemampuan meramal atau pun kemampuan mengetahui pikiran orang lain akan menunjukkan jalan yang benar-benar jalanmu.
Ini yang telah ku ketahui.
Sisanya harus kau temukan sendiri.
(1860)
Ini katanamu.
Untuk membuatnya, lempengan baja dimasukkan ke bara api, dibentuk dan ditempa, lagi dan lagi hingga dua puluh ribu lapis logam murni menjadi satu. Dari setiap lempeng baja yang dimasukkan ke bara api, hanya satu dari enam yang bertahan menjadi pedang yang tajam. Pertimbangkan ini baik-baik. Pahami dengan jelas perbedaan antara definisi dan metafora serta keterbatasan dari keduanya. Setelah itu, baru kau pantas menghunus senjata ini dalam urusan hidup dan mati.
(1434)
Buku II – Jembatan Musim Gugur (Aki no Hashi) - 1311
Angin musim gugur,
tiuplah awan yang menghalangi
kecerlangan murni sang rembulan,
dan enyahkanlah jauh-jauh
kabut yang menyelimuti hatiku.
Kini aku menghilang,
apa yang harus kupikirkan tentang itu?
Kita semua datang dari angkasa.
Dan kini aku akan kembali.
Setidaknya.
(Hojo Ujimasa, 1538 -1590)
Bangsawan Agung itu terampil menggunakan pedang tajam, menunggangi kuda perang yang ganas, dan memerintah anak buah yang tidak berdisiplin. Dia telah memenggal kepala sepuluh ribu musuhnya. Keahliannya berperang menimbulkan kekaguman seantero kekaisaran. Namun, bukankah dia memasuki dunia ini dengan tangisan keras dari rahim seorang wanita? Bukankah dia menyusu tanpa daya di dada seorang wanita? Dan ketika bintang-bintang dingin berkelip bagaikan kristal es di langit musim dingin, dan kedalaman keabadian menggetarkan hatinya, untuk apa dia mendambakan lebih dari pelukan seorang wanita?
Pepatah samurai terkenal menyatakan, “Pikiran pertama pada saat terjaga-kematian. Pikiran terakhir sebelum tertidur-kematian.” Ini adalah pandangan orang-orang tolol yang tak pernah dilahirkan.
Alih-alih menerima seorang lemah yang hanya melihat kematian di dalam darahnya, temukan seseorang yang melihat kehidupan di dalamnya.
Pikiran pertama pada saat terjaga-kehidupan!
Pikiran terakhir sebelum tertidur-kehidupan!
Hanya orang seperti itu yang tahu bahwa kematian akan datang segera.
Hanya seorang seperti itu yang benar-benar mampu memahami hati wanita.
“Kaupercaya bahwa mengetahui masa depan dan mengetahui masa lampau adalah dua hal yang berseberangan?”
Bangsawan penguasa wilayah berkata, “Ya.”
“Sebetulnya kedua hal itu bermakna sama.”
Bangsawan itu berkata, “Omong kosong. Masa lampau sudah berlalu. Masa depan belum terjadi. Bagaimana mungkin keduanya sama?”
“Dengan mengetahui masa lampau, dapatkah kau mengubahnya?”
“Tentu saja tidak,” sahut bangsawan itu.
“Jadi, bagaimana mengetahui yang tak terelakkan bisa berbeda dengan yang mengetahui apa yang telah terjadi?”
Kesetiaan dengan mengorbankan diri dipegang sebagai tujuan tertinggi samurai. Alasan untuk ini sulit ditemukan. Pemurah hati akan menyebutnya angan-angan. Yang lain akan memberinya nama lebih kasar.
Sejarah sejati klan wilayah ini ditulis dalam genangan darah pengkhianatan. Tetapi, bacalah apa yang telah menjadi kenangan, dan kau akan berpikir bahwa para pahlawan besar dari legenda telah hidup lagi, lagi dan lagi.
Bukankah ini suatu keajaiban bahwa mereka yang tumbuh dengan mendengarkan dusta akan menjadi pendusta pula?
Tiada yang memberimu lebih banyak kepedihan ketimbang cinta dalam kehidupan kini atau berikutnya. Jika ada yang mengatakan sebaliknya kepadamu, mereka berdusta.
Atau, mereka masih belum berpengalaman dalam hal ini.
Atau, mereka sangat beruntung dalam memilih kekasih mereka.
Sejauh ini.
Istri sang Bangsawan Agung melahirkan seorang putri. Tahun-tahun berlalu dan tak ada anak lagi yang terlahir dari istri maupun selir-selir. Ini menimbulkan kecemasan di antara anak buahnya. Tanpa ahli waris laki-laki, Shogun akan berhasil dalam usahanya menghapus klan ini. Namun, sang Bangsawan Agung tidak merasa risau sampai anak perempuannya, pada usia yang sangat muda, mulai menunjukkan aspek-aspek kecantikan luar biasa.
Dia berkata kepada kepala pengawal pribadinya, “Ada satu hal yang lebih burk ketimubang anak perempuan yang cantik. Bisa kau sebutkan apa itu?”
Pengawal itu menjawab bahwa dia tidka bisa menyebutkannya.
Anak perempuan yang jelek, kata sang Bangsawan Agung.
Pengawalnya tidak tahu apakah sang Bangsawan Agung berbicara serius atau sedang bercanda. Jadi, dia tidak tertawa, juga tidak mengiyakan, hanya membungkuk hormat untuk menanggapinya.
Sebuah peribahasa kuno mengatakan bahwa laki-laki adalah keberanian, wanita adalah kebaikan hati. Di sana ada kombinasi simetri dan kontras yang memuaskan, dan sebagaimana hal yang memuaskan, ia juga memperdayai.
Keberanian dan kebaikan hati tidak dapat dipisahkan.
Jika keberadaan yang satu tampaknya tidak disertai yang lainnya, waspadalah.
Kau sedang menghadapi kepengecutan dan kekejaman yang tersamarkan.
Di antara manusia, yang paling bejat, yang paling pengecut, yang paling tidka bisa dipercaya, tak satu pun dari mereka menganggap dirinya penjahat. Mereka merasa menjadi pahlawan-pahlawan yang melakukan tugas sulit menghadapi lawan berat.
Mereka meyakinkan diri mereka akan hal ini dengan hanya melihat apa yang mereka ingin lihat, merampok kata-kata dari maknanya, melupakan yang nyata dan mengingat yang palsu. Dengan cara ini, mereka tidak begitu berbeda dnegan pahlawan sejati.
Apa perbedaannya?
Pahlwan sejati ada di pihak kita.
Penjahat bejat, pengecut, dan berbahaya adalah pahlawan musuh kita.
Bangsawan muda itu bertanya, “Bagaimana kudapatkan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan perasaan hatiku?”
“Perasaan paling dalam tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata, tetapi ditunjukkan semata.”
“Kalau begitu tak ada harapan,” kata bangsawan muda itu. “Tak seorang pun akan mengerti aku, dan aku takkan mengerti siapa pun.”
“Tidak begitu. Mereka yang paling dekat denganmu akan mengenalmu paling baik dari apa yang tak kau ucapkan, dan kau akan mengenal mereka dengan cara yang sama.”
Ingatan adalah godaan yang berbahaya,
Jika kau mengingat sedikit, kau akan berupaya dengan sia-sia untuk mengingat lebih banyak. Jika kau mengingat lebih banyak, kau juga akan berusaha untuk ingat lebih banyak lagi. Dalam setiap kasus, kau akan mengenang apa yang memuaskanmu dan mengabaikan yang tidak. Bukankah menakjubkan bahwa ingatan tidak pernah mengecewakanmu? Tak pelak lagi, kau menemukan apa yang kau cari.
Dan kalau kau mengingat segalanya?
Maka rahasianya adalah untuk melupakan dengan perhatian yang sama egoisnya.
Manusia mengira bahwa merekalah yang menguasai dunia. Jangan menyulitkan diri sendiri. Jangan banyak bicara dan pegang teguh keyakinan ini.
Mengetahui kebenaran adalah kebijaksanaan.
Mengocehkannya adalah kebodohan.
Kecantikan, keremajaan, dan pesona sirna bahkan sejak kemunculannya pertama kali. Di kabut awal musim semi, kami melihat Jembatan Musim Gugur.