Posted by: kyla on: Maret 15, 2008
Di sebuah blog saya (Vol.I), ada sebuah tulisan tentang HIJAB (part 1) yang ditulis oleh seorang rekan saya dan menerima banyak respon beragam yang masuk ke kotak inbox saya. Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk menjelaskan secara lebih gamblang lagi perihal hijab atau yang biasa disebut sebagai jilbab (part 2) di masyarakat, sehingga inilah yang memicu saya untuk menerbitkan kembali tulisan mengenai hijab di blog ini (Vol.III) yang saya bagi menjadi dua bagian. Dan berikut adalah bagian pertama yang ditulis oleh Hilda B Lubis.
Kain penutup wanita itu tak lain bernama hijab. Kain yang tak banyak wanita yang menganggapnya sebagai sebuah kewajiban yang harus dijalankan dan berdosa jika ditinggalkan, yang menganggap bahwa hijab hanya sekedar simbol keagamaan dan budaya dari suatu bangsa. Banyak pula yang sudah mengetahui kewajiban itu namun pura-pura tidak tahu karena enggan memakainya, dengan berbagai alasan yang sebagian besar karena ketidaksiapan mereka menerima konsekwensi yang diemban ketika memakainya. Ada juga yang setengah-setengah menjalankan dengan memodifikasi jilbab atau busana muslimah dengan berbagai mode namun mengabaikan sisi syari’at. Alasannya sama, tidak siap dan takut dibilang kuno atau gak gaul dan banyak alasan lainnya. Namun begitu tetap ada segelintir wanita yang karena ketaatan mereka berusaha menjalankan apa yang telah Allah gariskan dalam Al-Qur’an (baca: Q.S.An-Nur: 31). Mereka yang dengan bangga menunjukkan identitas mereka di tengah hantaman badai trend fashion yang serba terbuka meski harus berjuang menghadapi diskriminasi berkedok Undang-undang negara dan peraturan sekolah yang berisi larangan memakai jilbab, cemoohan dari orang-orang di sekitarnya, bahkan terkadang ancaman dari keluarga sendiri.
Kain penutup itu lebih dari sekedar pakaian pemberi identitas para wanita. Meski memerlukan ukuran yang cukup lebar untuk menutupi seluruh tubuh, namun relatif jauh lebih murah dibanding pakaian irit bahan yang dijual di pasaran. Tidak pernah kadaluarsa dari zaman ke zaman, dengan keluaran mode-mode terbaru sekalipun dari pakaian-pakaian yang katanya ngetrend di pasaran. Jangan Anda katakan kuno, karena mereka-mereka yang kuno adalah mereka yang meniru pakaian-pakaian jahiliah di masa dahulu. Tidaklah panas atau gerah seperti apa yang sering dikatakan mereka yang sebenarnya berhati panas. Justru melindungi kita dari panas matahari dan panas mata-mata yang berkeliaran, bahkan melindungi kita dari bahaya sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker kulit. Melindungi tubuh kita dari paparan debu dan polutan yang berbahaya bagi kesehatan. Sungguh banyak manfaat besar lainnya. Dan yang terpenting dan perlu kita ketahui bersama-sama bahwasanya seorang wanita yang terlihat auratnya, maka yang melihat dan yang terlihat sama-sama mendapat dosa. Bayangkan jika setiap detik aurat itu terlihat maka selama itu pula dosa mengalir. Belum lagi reaksi yang menimbulkan maksiat dan dosa yang lebih besar setelahnya. Maka tidak dinafikan, jika wanita dijadikan indikator kebobrokan suatu bangsa . Moga menjadi renungan bagi kita bersama bahwa pakaian kita bisa menjadi jurang yang mengantarkan kita ke surga ataupun neraka. Wallahu a’lam bitsawab. (Hilda B. Lbs)
komentar terbaru