Posted by: kyla on: Maret 26, 2008
menarik napas
menghembus napas
depan…
belakang…
hidup…
mati…
panah berhamburan satu per satu
bersua di tengah
memecah kehampaan terbangnya yang tak bertujuan
dan aku kembali ke segala sumber…
Ada sebuah kutukan yang mengalir dalam tubuh Genji Okumichi, seorang bangsawan Akaoka, beserta para leluhurnya. Kutukan yang membuat dia mampu melihat masa depan, dan mengetahui kematiannya. Kutukan ini pula yang membuat dia tidak takut bertempur karena ia tahu persis bagaimana dia akan mati. Paman Genji, Shigeru, seorang samurai terkuat yang setara dengan Musashi kala itu, mengalami begitu banyak penglihatan ke masa depan. Shigeru bisa melihat kondisi jepang yang menurut pemahamannya dipenuhi oleh ribuan manusia yang berkumpul seperti semut serta munculnya ular-ular bertubuh listrik yang bergerak di sepanjang wilayah Jepang. Kondisi yang ia gambarkan dalam penglihatannya persis seperti keadaan Jepang modern di masa sekarang. Penglihatan yang begitu sering ia alami dan tak mampu ia mengerti membuatnya menjadi gila. Kutukan ini juga yang membuat Shigeru membantai istri dan anaknya untuk memutus mata rantai kutukan Lady Shizuka.
Itulah inti cerita Samurai buah imajinasi Takashi Matsuoka. Novel ini sangat memukau. Alurnya yang berpindah-pindah, maju-mundur dari masa kini ke masa lalu, dan melompat-lompat ke berbagai sudut pandang karakter, membuat pembaca memahami pemikiran karakternya dari sudut pandang mereka. Takashi Matsuoka membawa pembaca kembali ke era Shogun Tokugawa tahun 1862 di mana tradisi samurai hendak dihapuskan dan diganti dengan senjata modern dan segala atribut barat serta permulaan masuknya misionaris ke wilayah Jepang yang kala itu dianggap sebagai bangsa bar-bar.
Ada tokoh yang dipanggil Jimbo, seorang warga Amerika yang akhirnya memutuskan menjadi biksu Zen untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Ia pernah membantai sebuah keluarga dan membakar rumah mereka di saat sang suami sedang tak di rumah. Sang suami tersebut bernama Mathew Stark, yang bersumpah untuk mencari dan membunuh Jimbo. Stark mengetahui bahwa Jimbo telah lari ke Jepang, sehingga Stark pun menyamar dan bergabung bersama dua orang misionaris, Emily Gibson dan pendeta Zephaniah, yang diundang oleh Genji untuk datang ke JepangKeputusan Genji untuk menyambut misionaris Kristen ini disambut dingin oleh bangsawan lain di Jepang saat itu yang sangat anti-asing.
Genji sendiri tampil bak seorang flamboyan. Ia memiliki pemikiran terbuka terhadap kebudayaan asing yang membuatnya menjadi sasaran pembunuhan dan pengkhianatan. Namun karena kutukan yang dimilikinya, sebagai pemimpin terakhir klan Okumichi, ia tidak takut untuk menghadapi segala tantangan. Ia memiliki seorang geisha tercantik bernama Heiko, yang belakangan diketahui merupakan keturunan etha, sebuah sebutan yang setara dengan gelandangan. Untuk menutupi kenyataan ini, Genji lantas mengirim Heiko yang kala itu sedang hamil ke San Fransisco bersama Stark dan 3 orang anak buahnya. Namun Heiko meninggal saat melahirkan tanpa pernah mengetahui alasan Genji mengirimnya ke Amerika. Genji akhirnya menikah dengan Emily Gibson, wanita yang ia tahu melalui penglihatannya akan memberinya seorang putri cantik bernama Shizuka. Emily juga meninggal saat melahirkan. Dan Genji mengetahui, pada akhirnya, ia sendiri akan dibunuh oleh Makoto Stark, putranya dari Heiko, dan meninggal dalam pangkuan putrinya, Shizuka.
Sangat menyentuh… aku bisa memahami alasan Makoto membunuh Genji. Dendam? Barangkali, tapi mungkin alasan sebenarnya adalah kekesalannya terhadap Genji yang membuang ibunya (Heiko) ke Amerika. Genji menerima dengan terbuka kematiannya dan berbahagia karena penglihatan terakhirnya (menurut kakeknya, Genji hanya akan memperoleh tiga penglihatan sepanjang hidupnya) adalah kembali ke masa lampau dan melihat dirinya bersama orangtuanya.
Ketika pertama kali membaca buku pertama, Kastel Awan Burung Gereja, saya langsung jatuh cinta dengan gaya bercerita Takashi Matsuoka yang berputar-putar memainkan imajinasi saya. Dua hari saya lewati untuk menuntaskan membaca novel ini lalu bergegas kembali ke toko buku untuk segera membaca sekuelnya, Jembatan Musim Gugur. Personally, saya lebih menyukai novel kedua, Angin Musim Gugur, karena di buku kedua lebih banyak mengungkap misteri para leluhur Genji dan kutukan Lady Shizuka.
Secara keseluruhan, novel ini sangat memikat oleh banyaknya kutipan yang sarat makna. Novel ini juga menceritakan romansa antara Heiko-Genji-Emily, namun bagi saya yang paling berkesan adalah kisah Hanako-Hide.
Hanako memandang Hidé dari tandu tempatnya terbaring. Dia sangat bangga pada suaminya itu. Dalam setiap krisis, dia menjadi semakin dewasa, semakin berani, dan semakin terfokus. Bahkan, postur tubuhnya saat menunggang kuda sudah berubah. Dia benar-benar menjadi samurai sejati seperti yang dia tahu sejak dahulu. Yang kurang hanyalah dia tidak memiliki istri yang pantas untuk kedudukannya sekarang.
Hanako berkata, ”Aku membebaskanmu dari perkawinan kita,” dan memalingkan kepalanya. Tak ada air mata di matanya, dan dia mengontrol napasnya sehingga tidak terlihat dia sedang sedih.
Hidé berkata kepada Taro yang berkuda di sampingnya, ”Dia mengigau.”
Hanako berkata lagi, ”Aku tak lagi pantas menjadi istrimu.”
Taro berkata kepada Hidé, ”Ya, pasti mengigau. Bahkan prajurit terhebat pun kalau menderita luka parah kadang mengigau tak tentu arah setelahnya. Kurasa penyebabnya adalah kehilangan banyak darah dan terguncang.”
Hanako berkata, ”Kau butuh teman hidup yang tidak cacat, yang dapat berjalan di belakangmu tanpa membawa malu dan hinaan.”
Hidé dan Taro terus mengabaikannya. Hidé berkata, ”Kaulihat bagaimana dia melemparkan tubuhnya di depan tebasan pedang?”
”Hebat,” kata Taro. ”Aku biasanya hanya melihat aksi itu di drama kabuki, tak pernah di dunia nyata.”
”Setiap kali aku melihat lengan bajunya yang kosong,” kata Hidé, ”aku akan mengingat dengan penuh rasa terima kasih atas pengorbanan yang dia lakukan untuk menyelamatkan nyawaku.”
”Aku tak bisa memegang nampan,” kata Hanako, ”aku juga tak bisa lagi memegang teko teh dan botol sake dengan pantas. Siapa yang tahan dilayani orang cacat yang hanya punya satu tangan?”
”Untungnya dia masih punya tangan pedangnya,” kata Taro. ”Siapa tahu suatu saat kamu membutuhkannya lagi di sampingmu?”
”Benar,” kata Hide. ”Dan satu tangan lebih dari cukup untuk menggendong bayi ke susunya, atau memegang tangan anak saat dia belajar berjalan.”
Hanako tak dapat menahan dirinya lagi. Dia gemetar oleh emosi. Air mata cinta dan terima kasih mengalir daras dari matanya. Dia ingin berterima kasih kepada Hidé atas ketabahannya, tetapi kata-katanya tertelan sedu sedan.
Taro permisi dengan membungkuk dan memacu kudanya ke barisan belakang. Di sana, di antara mantan pengikut Mukai, dia juga menangis tanpa malu.
Untuk pertama kalinya, mata Hidé tetap kering. Dengan kontrol diri ketat yang dia pejalari dalam pertempuran, dia tak membiarkan setetes pun air matanya jatuh, dan tak ada sedan yang menggetarkan tubuhnya. Kesedihannya atas luka Hanako tak perlu dipertanyakan lagi, tetapi itu tak sebanding dengan rasa hormat yang dia rasakan terhadap keberanian istrinya yang menyerupai seorang samurai dan cintanya yang semakin tumbuh besar.
Kejamnya perang dan kegembiraan cinta. Keduanya sesungguhnya adalah satu.
Hidé duduk tegak di pelananya dan berkuda dengan penuh keyakinan menuju Edo.
Berikut beberapa kutipan dari novel Samurai:
“Pengetahuan bisa menghambat. Ketidaktahuan justru membebaskan. Tahu kapan untuk tahu dan kapan untuk tak tahu, ini sama pentingnya dengan pedang yang tajam”
“Mengetahui masa depan dan mengetahui masa lampau adalah dua hal yang bermakna sama. Apa bedanya mengetahui hal yang tak terelakkan dengan mengetahui hal yang telah terjadi?”
“Apakah kemampuan mengetahui masa depan bisa menguntungkan, atau justru membawa malapetaka? Mampukah pengetahuan seperti itu melahirkan seorang samurai sejati, yang tabu mengeluh ketika mengalami siksaan fisik paling hebat sekalipun, yang rela mati menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan, namun tetap dianggap wajar untuk menangis tersedu-sedu saat merasakan keharuan dan kebahagiaan?”
“Apakah kemampuan mengetahui masa depan bisa menguntungkan, atau justru akan membawa malapetaka? Mampukah kelebihan itu melahirkan seorang samurai sejati, yang tabu untuk mengeluh ketika mengalami siksaan fisik paling hebat sekalipun. Yang rela menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan, namun tetap dianggap wajar untuk menangis tersedu-sedu d isaat merasakan keharuan dan kebahagian.”
Juni 1, 2009 pada 9:47 pm
dua buku samurainya takashi matsuoka amat sangat bagus!. Begitu selesai membaca buku yang pertama, saya ingin langsung buru-buru membaca buku yang kedua.
Tapi kok buku sebagus ini tidak ada yang memfilmkannya ya??