Posted by: kyla on: Juni 6, 2008
Shift kerja dan waktu kerja berlebih biasanya diterapkan untuk lebih memanfaatkan sumber daya yang ada, meningkatkan produksi, serta memperpanjang durasi pelayanan1). Shift kerja berbeda dengan hari kerja biasa, di mana pada hari kerja biasa pekerjaan dilakukan secara teratur pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya sedangkan shift kerja dapat dilakukan lebih dari satu kali untuk memenuhi jadwal 24 jam/hari. Biasanya perusahaan yang berjalan secara kontinyu yang menerapkan aturan shift kerja ini. Alasan lain dari shift kerja adalah kebutuhan sosial akan pelayanan. Polisi dan rumah sakit benar-benar dibutuhkan untuk 24 jam/hari, 7 hari/minggu2).
Monk dan Folkard dalam Silaban dalam Wijayanti (2005) mengkategorikan 3 jenis sistem shift kerja, yaitu shift permanen, sistem rotasi cepat, dan sistem rotasi shift lambat3).
Pada sidang ke-77 di Jenewa tanggal 26 Juni 1990 dibahas mengenai standar internasional bagi pekerja malam. Standar yang dimaksud adalah The Night Work Convention and Recommendation. The Night Work Convention membahas mengenai kesehatan dan keselamatan, transfer kerja siang hari, perlindungan bagi kaum wanita, kompensasi dan pelayanan sosial. Recommendation membahas mengenai batas waktu kerja normal, waktu istirahat yang minimum antar shift, transfer kerja siang pada situasi khusus, kesempatan pelatihan2).
Tabel 1. Standar Internasional bagi Pekerja Malam4)
|
No. |
Bidang |
Ukuran |
|
1 |
Jam Kerja Normal |
Tidak lebih dari 8 jam sehari |
|
2 |
Overtime |
Tidak ada shift kerja yang penuh berurutan |
|
3 |
Waktu Istirahat |
Sekurang-kurangnya 11 jam antar shift |
|
4 |
Jam Kerja Istirahat |
Istirahat untuk makan dan istirahat |
|
5 |
Ibu/ Calon Ibu |
Penugasan di siang hari (sebelum dan sesudah kehamilan) |
|
6 |
Pelayanan Sosial |
Batas waktu transportasi, biaya, dan perbaikan keselamatan. Perbaikan kualitas istirahat. |
|
7 |
Situasi Khusus |
Toleransi pada pekerja yang mempunyai tanggung jawab bagi keluarga, pekerja yang lamban dan tua. |
|
8 |
Pelatihan |
Mendapatkan kesempatan pelatihan |
|
9 |
Transfer |
Pemikiran khusus untuk ditugaskan siang hari (setelah bertahun-tahun bekerja pada malam hari) |
|
10 |
Pensiun |
Pemikiran khusus bagi pekerja yang pensiun sebelum waktunya |
Dampak Shift Malam
Variabel utama manusia yang berkaitan dengan kerja shift adalah circadian rhytm. Kebanyakan fungsi tubuh manusia berjalan secara ritmik dalam siklus 24 jam. Inilah yang disebut circadian rhytm (ritme sirkadian). Fungsi-fungsi tubuh yang meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari termasuk temperatur tubuh, detak jantung, tekanan darah, kemampuan mental, produksi adrenalin, dan kemampuan fisik1).
Secara umum, semua fungsi tubuh berada dalam keadaan siap digunakan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari adalah waktu untuk istirahat dan pemulihan sumber daya (energi)1).
Fungsi tubuh yang ditandai dengan sirkadian adalah tidur, kesiapan untuk bekerja, dan banyak proses otonom, fungsi vegetatif seperti metabolisme, temperatur tubuh, detak jantung, dan tekanan darah. Semua fungsi manusia yang telah dipelajari menunjukkan siklus harian yang teratur2).
Pulat menyebutkan bahwa kerja shift malam akan berdampak pada respon fisiologis tubuh, efek sosial, dan efek penampilan (kerja)1).
1. Efek fisiologis
Beberapa efek kerja shift terhadap tubuh:
a) Mempengaruhi kualitas tidur. Tidur siang tidaklah seefektif tidur pada malam hari karena terdapat banyak gangguan. Biasanya memakan waktu dua hari istirahat untuk menggantikan waktu tidur malam akibat kerja shift malam.
b) Kurangnya kemampuan fisik untuk bekerja pada malam hari. Walaupun masalah penyesuaian sirkadian merupakan alasan yang utama, ada alasan lain yaitu perasaan mengantuk dan lelah.
c) Mempengaruhi kemampuan mental. Johnson dalam Pulat melaporkan bahwa berkurangnya kapasitas mental mempengaruhi perilaku waspada terhadap pekerjaan seperti pengontrolan dan monitoring kualitas. Lebih lanjut, Kelly dan Schneider dalam Pulat menyatakan bahwa kesalahan dapat meningkat secara bermakna (80% sampai 180%) karena bertambahnya lama kerja shift.
d) Gangguan kegelisahan juga telah dilaporkan terjadi di antara pekerja shift malam. Kehilangan waktu tidur dan efek sosial dari kerja shift juga merupakan alasan utama.
e) Gangguan saluran pencernaan. Thiis-Everson melaporkan bahwa dari 6000 pekerja Norwegia, 35% pekerja shift malam mengalami gangguan perut, 13,4% mengalami ulserasi, dan 30% mengalami gangguan usus.
2. Efek Sosial
Sebagai tambahan, kerja shift juga mempengaruhi kehidupan sosial:
a) Mengganggu kehidupan keluarga
b) Sedikitnya kesempatan untuk berinteraksi dengan kerabat dan rekan.
c) Mengganggu aktivitas kelompok.
3. Efek Performansi
Wyatt dan Marriott dalam Pulat mengkonfirmasikan bahwa sebagai akibat dari efek fisiologis dan sosial, performansi (penampilan) juga akan menurun pada malam hari. Browne menemukan bahwa kelambatan atau penundaan menjawab panggilan telepon pada operator telepon meningkat secara drastis pada shift malam. Bjerner et al mengobservasi kesalahan yang lebih tinggi secara bermakna dilakukan oleh pembaca meteran di perusahaan gas pada waktu shift malam dari pada shift lainnya. Monk dan Embrey menyatakan bahwa kebanyakan dari efek ini akibat kurangnya kewaspadaan pekerja pada waktu shift malam.
Penasehat medis perusahaan telah mencatat banyaknya kasus gangguan tidur siang di antara pekerja malam. Gangguan pada tidur siang ini dihubungkan dengan kebisingan, akan tetapi kebanyakan pekerja malam menyatakan mereka merasakan kegelisahan selama siang hari dan tidur siang mereka tidak cukup menyegarkan4).
Referensi:
1. Pulat, Mustafa B. 2002. The Fundamental Ergonomics. Prentice Hall Englewood Cliffs, New Jersey.
2. Nurmianto, Eko. 2004. Ergonomi: Konsep Dasar & Aplikasinya Edisi III. Guna Widya, Surabaya.
3. Wijayanti, Sri Ramadhani. 2005. Shift Kerja dan Karakteristik Individu dengan Kinerja Perawat di Ruang ICU Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2004 [Skripsi]. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara.
4. Grandjean, Etienne. 1988. Fitting the Task to the Man 4th Edition. Taylor & Francis Publisher, London.
Sebetulnya ada tidak aturan nasional (berupa Kepmen/PP) yang menetapkan pengaturan shift maksimal harus 8 jam? Bagaimana bila ada kesepakatan antara pengusaha dan pegawai bahwa aturan shiftnya tidak sesuai dengan aturan yang ada? Contoh untuk RS dengan shift I jam 07-13, shift II jam 13-19 dan shift III jam 19-07.Pola yang diikuti adalah 2-2-2 dan libur 2 hari. Mohon infonya. Trims
[...] sebaiknya pihak manajemen melakukan kebijakan penambahan jam istirahat, penambahan pergantian shift pekerja, dan atau pengurangan jam kerja selama bulan [...]
Mau tanya neh, saya baru bekerja di bidang pelayan khususnya rumah sakit. Kebetulan juga saya ingin mengatur jam kerja di rumah sakit tempat saya bekerja, selama ini mereka bekerja 12 jam tanpa dibayar lembur. Bagaimana sebaiknya mengatur jam kerja tanpa lembur, berapa jam sehari, berapa kali libur dalam sebulan, kalau di shift sebaiknya formulanya bagaimana?
ada gak sih UU, KEPMEN, atau PERMEN tentang tunjangan extrapudding
Mohon penjelasan, perusahaan kami sekarang menjalankan pola pengaturan kerja 3 shift dengan 6 hari kerja & 1 hari libur, yaitu: Shift A (00.00 s/d 07.40), Shift B (08.00 s/d 15.40) & Shift C (16.00 s/d 23.40).
Pergantian/rotasi shift dilakukan setiap 1 bulan sekali.
Apakah pola yang sudah kami jalankan sudah cukup baik?
Mohon advice-nya.
Terima Kasih
Juli 11, 2008 pada 4:02 pm
salam..
saya ingin bertanya, kebijakan apa saja yang harus dilakukan oleh perusahaan yang memiliki 2 shift kerja (pagi dan malam) dalam sehari, berkaitan dengan masalah pergeseran sirkadian ritme yang dialami pekerja di shift malam?
terima kasih banyak..