Posted by: kyla on: Juni 6, 2008
Life is like a box of chocolate, you never know what you’re gonna get
Aku tidak pernah betul-betul mengagumi karya sastra Indonesia. Pun ketika novel Ayat-ayat Cinta meledak sebagaimana film-nya yang membuat para petinggi negara menitikkan air mata. Aku sendiri memang belum pernah membaca atau pun menonton film-nya namun dari hiruk-pikuk seantero negeri membahasa cerita ini, aku jadi bisa menebak bagaimana jalan ceritanya, sedu-sedan tangisnya, serta bagaimana ceritanya akan berakhir. Aku tahu aku akan kecewa mengetahui versi lengkapnya.
Aku merindukan sebuah karya yang otentik, penuh petulangan, inspiratif, serta kaya petuah hidup, yang semuanya kuperoleh ketika membaca novel perdana tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (P.S: novel ke-empat belum keluar).
Novel yang luar biasa. Tak heran begitu banyak pujian untuk kekuatan buku ini. Betapa hidup tak pernah bisa diduga. Betapa Tuhan bergerak dengan cara-Nya sendiri dan tak mampu diramalkan. Dan betapa hidup bisa menjadi demikian indah apabila dijalani dengan penuh keikhlasan meski dalam keterbatasan.
Tengoklah Lintang (dari bahasa Jawa yang berarti Bintang). Seorang genius didikan alam yang telah menguasai operasi pohon Pascal sejak kelas satu SMP, yang memahami filosofi diferensial dan integral sejak usia demikian muda, dan yang pada bulan ke-empat sebelum Ebtanas SMP, memutuskan berhenti sekolah demi mengambil alih tugas Ayahnya, yang meninggal, untuk bekerja menghidupi empat belas orang anggota keluarganya. Adalah Lintang yang mengharumkan nama sekolah kampung Muhammadiyah yang reyot seperti gudang kopra dengan membawa pulang trofi kemenangan dalam kompetisi cerdas cermat di wilayah Belitong. Lintang yang membungkam seorang guru ahli Fisika, yang menyandang predikat guru teladan tingkat propinsi, dalam teori fisika optik, serta Lintang pula lah yang telah memakukan dalam-dalam di dada para Laskar Pelangi bahwa:
“setiap orang, bagaimana pun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan”.
Namun Lintang terkubur dalam ironi, yang diibaratkan Ikal seumpama seekor tikus yang mati di dalam lumbung padi. Ketidak-adilan membungkus rapi kecemerlangannya.
Tengok juga Arai, sepupu jauh Ikal dalam Sang Pemimpi dan Edensor, yang menggemakan jauh ke dalam relung hati Ikal,
“Kita ‘tak ‘kan pernah mendahului nasib!”
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa hingga Afrika! Apa pun yang terjadi!”
Teriakan yang (anehnya) hampir terwujud sepenuhnya seandainya mereka terus melaju ke selatan Afrika, bukannya berhenti sampai Zaire. Sungguh aneh bagaimana teriakan spontan tersebut telah dicatat Tuhan dan menunggu untuk diwujudkan. Mungkin aku bisa menambahkan sebuah pelajaran moral untuk Andrea: hati-hati dengan mulutmu! Karena setiap ucapanmu memiliki peluang 50% untuk menjadi kenyataan!
Masa lalu Arai juga memilukan layaknya Lintang. Sebatang kara sejak usia belia tidak menjadikan si simpai keramat ini sebagai orang yang berkecil hati, pesimis, dan menyerah pada nasib. Sebaliknya, ia tumbuh menjadi sosok yang tegar menantang kehidupan, gigih, percaya diri, dan tak pernah menyerah. Arai bernasib lebih baik dibandingkan Lintang. Tuhan, dengan segala kekuatan berada di dalam genggaman-Nya, menakdirkan ia dan Ikal diterima di universitas yang sama, Universite de Paris, Sorbonne, Prancis, menemukan mozaik hidup mereka.
Ada romansa bisu nan sepi di balik tirai keong toko kelontong Sinar Harapan. A Ling. Fragmen A Ling dan cinta pertama yang murni dan tulus tidak pernah pudar dalam jiwa Ikal bahkan bertahun-tahun kemudian setelah A Ling pergi dengan meninggalkan sebuah diary yang berisi kumpulan puisi Ikal untuknya dan buku Herriot – Seandainya Mereka Bisa Bicara. Edensor, sebuah desa nan cantik dalam buku tersebut, ibarat sebuah penawar segala rasa lelah Ikal, penawar kegalauan hatinya, dan pengobar semangat di kala terpuruk.
Aku kagum dengan perjuangan Ikal yang berkelana hingga ke pelosok-pelosok Eropa serta menembus kerasnya Afrika, demi sebuah nama yang begitu dekat dengannya belasan tahun yang lalu: A Ling. Selalu A Ling. Aku jadi bertanya-tanya, jika A Ling membaca buku ini, bagaimana A Ling mengingat Ikal?
Buku keempat, Maryamah Karpov, kabarnya akan beredar September tahun ini. Hmm…, aku yakin buku tersebut akan ludes terjual dalam beberapa hari saja karena merupakan buku terakhir atau boleh dikatakan sebagai ending dari tetralogi Laskar Pelangi. Semoga Andrea memberi berita gembira mengenai Lintang dan memberikan jawaban pasti kepada pembaca mengenai keberadaan A Ling. Mungkinkah Ikal menemukannya?
Agak telat memang bila aku memutuskan untuk me-review ketiga novel ini. Namun, weblog ini baru seumur jagung dan belakangan ini, aku hanya menghabiskan waktu membaca kembali koleksi buku-buku lama. Tetralogi Laskar Pelangi adalah salah satu novel terbaik (versi ku) di samping Samurai dan BILLY. Mungkin lain waktu aku akan me-review manga Jepang. My All Time Favorite Manga.
udah keluar tuh MARYAMAH KARPOV, buku keempat tetraloginya!
Terus terang saja, saya belum pernah membaca buku anda.Tetapi saya amat bersyukur telah memiliki novelis seperti Laura S Wilder dalam Preire in House – di jaman 80,an.Hebat kisah seorang yang besar di desa bisa menaklukan dunia.Kisah anda benar-benar ideal untuk dunia yang sudah global. Saya hanya mengatakan, saya akan membaca buku anda sepuluh tahun ke depan.Karena saya sangat kritis membaca buku.Puncak seorang dewasa hanya ketika ia sudah melahirkan buku sebanyak sepuluh novel.Semoga ini, membuat anda semakin matang saja.Pujian yang buru-buru memang datang dari publik kita yang amat kekurangan mencintai buku.Dan penulis yang belum dihargai sesungguhnya. Semoga ini menjadi pelita bagi kami semua.Selamat terus memacu diri.Dan bila anda mengatakan anda masih single.itu wajar. karena anda bukan seorang novelis wanita, yang hidup dengan perasaan yang halus, perlu pasangan yang bisa mengartikan saya wanita- butuh pria.Pria saya, butuh wanita ketika saya sadar, saya begitu buta dalam kelemahan fisik tua saya – saya butuh perawat untuk masa tua saya.Bisik terdalam yang payah jawaban di melodi cinta
hi smua
apao crto uhang kincay
Juni 7, 2008 pada 1:57 pm
ass.
saya sangat mengagumi semua buku yang anda tulis.tapi saya ada permintaan yang lumayanlah…!!!
saya ingin foto 10 orang yang ikut dalam laskar pelangi,arai dan juga jimbron.wasss