jump to navigation

Etika Lingkungan (A Sonny Keraf): A Review November 22, 2008

Posted by wawa in Books Corner, Go Green!!!, WorldAbout.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Awal ketertarikanku terhadap isu lingkungan dimulai sekitar akhir tahun 2007. Sewaktu dosen Ekonomi Lingkungan memberi tugas menyimpulkan konsep antroposentrisme, ekosentrisme, dan biosentrisme. Beliau meminta kami membaca buku Etika Lingkungan tulisan Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, A Sonny Keraf.

Jujur aja, sewaktu dikasih tugas bikin resume buku ini (Bagian Pertama), aku rada kesal. Gara-garanya, tugas ini dikasih sebelum libur lebaran dan dikumpul setelah lebaran. Trus, dosen-dosen lain ikut-ikutan juga ngasih tugas lebaran. Wah, aku yang berharap bisa pulang kampung tanpa beban dan balik lagi ke Bogor dengan good mood, malah jadi kewalahan. Sibuk buangett… Apalagi buku ini tebal dan tulisannya kecil-kecil. Cape’ deeh…

My curiosity terusik setelah membaca halaman demi halaman pertama buku ini. Cara beliau menuturkan poin demi poin, contoh-contoh nyata tentang moralitas yang dihadapi dalam kehidupan nyata, serta cara beliau mengajak pembaca berpikir, adalah beberapa alasan kenapa aku mengagumi buku ini. Ku akui bahwa buku ini rada berat dalam artian pembaca musti betul-betul membaca dan memahaminya agar bisa mengerti poin yang beliau tekankan. Meskipun demikian, bukan berarti pembaca malah menjadi bosan, capek memahami, makin puyeng. Ngga…, menurut aku secara pribadi sih, ngga. Buktinya, setelah hanya disuruh dosen untuk membaca dan membuat resume Bagian Pertama, aku malah terus melahapnya sampai selesai, hingga ke halaman 307.

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Pertama membahasa tentang Teori-teori Etika Lingkungan. Sebelum masuk ke teori etika lingkungan, terlebih dahulu dibahas mengenai teori Etika dan perkembangannya. Teori-teori Etika Lingkungan yang dibahas dalam buku ini adalah: Antroposentrisme, Biosentrisme, Ekosentrisme, dan Ekofeminisme. Di Bagaian Pertama ini juga dibahas tentang Hak Asasi Alam dan Prinsip-prinsip Etika Lingkungan Hidup.

Bagian Kedua fokus kepada Etika Lingkungan dan Politik Lingkungan. Bagiku secara peribadi, Bagian Kedua ini lebih menarik karena membahas isu lingkungan sebagai isu global dan terkait juga dengan politik global. Jadi, permasalahan lingkungan (gak usahlah heboh membahas tentang global warming, itu cuma bagian kecil dari permasalahan lingkungan global) rupanya bersifat holistik, semua aspek termasuk politik, kebijakan ekonomi, hutang luar negeri, dan lain-lain semuanya berpengaruh terhadap lingkungan. Aku suka ungkapan Keraf yang kira-kira bunyinya seperti ini (gak ingat halaman berapa, jadi gak bisa dikutip):

“kita (Indonesia) ibarat terus hanyut ke dalam pusaran hutang-piutang yang sudah terbentuk sejak lengsernya Bung Karno. Pemerintahan sekarang hanya mewarisi hutang pemerintahan yang lalu. Kita gak akan bisa merdeka, berani menentang-seperti layaknya Bung Karno dulu, sebelum kita keluar dari pusaran hutang luar negeri. Selama kita masih punya hutang, selama itu pulalah kita dijajah, selama itu pulalah kita akan terus mengeksploitasi sumber daya alam negeri kita. Pada akhirnya…, kita akan terus dan terus berhutang (gali lobang tutup lobang), sumber daya alam kita akan semakin habis. Yang untung siapa? Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya. Mereka lah yang “meminta” kita mengeksploitasi SDA kita untuk mereka konsumsi. Kita gak bisa nolak…Ya gimana caranya nolak, kita kan punya hutang, dan untuk membayar hutang kita harus meningkatkan produksi dengan semakin mengeksploitasi SDA. Hasil hutan, kulit binatang kita ekspor ke negara kapitalis untuk diproduksi menjadi kertas, furnitur, pakaian, dan lain-lain”

Ya…kira-kira seperti itulah, redaksinya mungkin kurang tepat. Yang jelas setelah membaca bagian ini, aku merasa seperti tersengat listrik, tersadar bahwa inilah semacam konspirasi global negara kapitalis. F@^K them!!!

Bagian Kedua sedikit banyak menyinggung tentang Bung Karno. Di usiaku yang sekarang, jujur saja aku gak begitu kenal sosok Bung Karno. Entah. Mungkin karena sejarah bangsa ini sudah diputarbalikkan dan gak jelas kebenarannya, aku jadi sangsi. Namun demikian, menurutku, terlepas dari keakuratan sejarah, toh gak ada manusia yang sempurna ibarat Nabi Muhammad SAW, menurutku ambil positifnya aja. Setelah membaca buku ini, juga setelah membaca buku Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari-Saatnya Dunia Berubah-aku mulai mengagumi keberanian Bung Karno, karena kedua penulis ini sama-sama “merindukan” sosok Bung Karno yang tak gentar, tak takut bersuara di hadapan bangsa-bangsa maju (alias kapitalis), mengangkat martabat bangsa Indonesia, dan terlebih lagi menginginkan Indonesia untuk berdikari, tegak di atas kaki sendiri, dan dengan tegas menolak pinjaman luar negeri yang dibalut kata “bantuan”.

Bagian Ketiga, yaitu Dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kembali ke Kearifan Tradisional, mengungkapkan bahwa suku-suku terasing yang kita anggap rendah, ternyata justru mereka yang punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Well, kita gak dituntut untuk menerima secara total adat-istiadat ataupun prinsip hidup mereka, namun setidaknya kita bisa belajar dari Etika Masyarakat Adat bahwa kita-manusia, hutan, binatang, serta makhluk lain yang ada di bumi adalah setara (menyangkut hak asasi alam) karena kita sama-sama ada/tercipta (due to our existence).

Yang menarik adalah argumen dari penganut Antroposentrisme, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap umat Kristiani, aku akan mengutip tulisan beliau dari halaman 36:

Pada umumnya, agama Kristen dan filsafat Barat, dan seluruh tradisi pemikiran liberal, termasuk ilmu pengetahuan modern, dianggap sebagai akar dari etika antroposentrisme. Selain teologi Kristen yang bersumber terutama pada kisah penciptaan dunia sebagaimana dimuat dalam Kitab Kejadian, pemikir-pemikir besar mulai dari Aristoteles, Thomas Aquinas, Rene Descartes, dan Immanuel Kant mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk cara pandang yang antroposentris ini. Kisah penciptaan dalam teologi Kristen dan juga pemikiran besar dari filsuf-filsuf besar ini sangat mempengaruhi cara pandang-dan dalam kaitan dengan itu perilaku-manusia modern terhadap lingkungan.

Sekadar untuk melihat kembali akar historis dari cara pandang yang antroposentris ini, ada baiknya kita soroti secara singkat pemikiran dasar dari teori Kristen dan filsuf-filsuf ini. Pertama, dalam Kitab Kejadian, pasal 1: 26-28, dinyatakan bahwa Allah menciptakan manusia secitra dengan Allah pada hari keenam sebagai puncak dari seluruh karya ciptaan-Nya. Selanjutnya Allah menyerahkan alam semesta beserta isinya (ikan di laut, burung di udara, ternak, seluruh bumi dan semua binatang yang merayap di atas tanah serta semua makhluk hidup) kepada manusia untuk dikuasai dan ditaklukkan.

Ajaran ini telah ditafsirkan bahwa Allah memberi kewenangan penuh kepada manusia untuk mengeksploitasi alam demi kepentingannya. Manusia diberi hak oleh Tuhan sendiri untuk menguasai dan mengeksploitasi alam semesta serta segala isinya demi kehidupannya. Ajaran ini menyebabkan manusia menjadi arogan, dan bertindak sebagai penguasa yang lalim atas alam ini, dengan segala konsekuensi dan dampaknya yang merugikan. Manusia memang diciptakan secitra dengan Allah dan manusia memang diberi kuasa oleh Allah untuk itu. Maka, alam hanya diperlakukan sebagai obyek untuk dieksploitasi.

….

Well, aku di sini gak akan membahas poin di atas.

Ini adalah buku yang luar biasa bagiku karena membuatku semakin aware untuk memelihara lingkungan dan menghormati alam.

Semoga bermanfaat.

P.S: Tadi aku menyinggung sedikit tentang buku Menteri Kesehatan yang berjudul Saatnya Dunia Berubah, jadi di lain waktu aku akan mengupas buku ini karena ini juga salah satu buku penting-ku. Trus, lain kali (juga) aku akan bercerita tentang teori-teori etika lingkungan. InsyaAllah.

.:Update: 24 Desember 2008:.

Berikut rincian buku ini:
Judul                              : Etika Lingkungan
Penulis                          : A. Sonny Keraf
Penerbit                       : Penerbit Buku KOMPAS, 2002
Jumlah Halaman  : XXII + 322 hlm
Dimensi                       : 14 cm x 21 cm

Alamat Penerbit:
PT. Kompas Media Nusantara
Jl. Palmerah Selatan 26-28
Jakarta 10270
e-mail: buku@kompas.com

Jadi, bagi yang kesulitan mendapatkan buku ini di toko buku, monggo dicoba menghubungi penerbitnya :-)

Comments»

1. sayyidah hani - October 8, 2011

kalo saya pesan bisa gak y?

2. kyla - September 18, 2010

@rufaidah & day: sama2…semoga bermanfaat :)
@budi: bener…350 tahun dijajah membuat kita terbiasa dan tidak menyadari lagi bahwa kita sebenarnya sedang dijajah.

3. day - January 1, 2010

thanx infonya…

4. budi - May 14, 2009

amazingly listening di qtv acara soegeng sarjadi, bpk Sony keraf,jimly,Emil Salim,Mas Achmad,memang sudah saatnya kita bgsa Indonesia sadar jangan mau diobok2 sama bangsa lain,walaupun ada UUDnya utk lingkungan tapi kalo kita masih dicocok idung kita kaya kebo, susahlah bangsa ini,ingat dulu waktu penjajah hengkang dr negri ini,dia bilang nanti kami akan balik lagi, eeh betulan aja dia balik lagi tapi gak pake senjata, dia pake duit,teknoologi, otak buat ngakalin kita, eh kitanya juga bodoh gak pinter pinter karna udah 350 thn dijajah jadi udah biasa,malah gaya pemimpin kita kaya penjajah terhadap rakyat miskin, ikut2an gaya kolonial, wah gawat biar Tuhan yang balas, InsyaaAllah

5. rufaidah - January 4, 2009

Terima kasih atas info bukunya ya Ka..
sangat bermanfaat buat tugas saya ^-^
salam kenal…
Let’s make a better world

6. Poppy - December 24, 2008

@ Yusuf:
Ini alamat penerbitnya:
PT. Kompas Media Nusantara
Jl. Palmerah Selatan 26-28
Jakarta 10270
e-mail: buku@kompas.com

silakan coba menghubungi pihak kompas ^_^

7. yusuf - December 24, 2008

salam kenal, kalau boleh tau penerbitnya siapa ya? kalo susah dicari di toko buku, mungkin bisa kontak penerbitnya.. trims..

8. Poppy - December 1, 2008

Somewhere in Jambi. Tepatnya? Hehe, gak perlu tw deh. Ntar banyak wartawan mampir, aku kan yang repot ngeladeni, hehe…

9. abid - November 29, 2008

Salam kenal. Jambi dmn? Kunjungi blogku ya.

10. Poppy - November 25, 2008

Halo Nanda…
Buku ini memang agak “langka” jadi susah ketemunya. Di museum juga belum tentu ada. Aku aja ngopi buku aslinya dari temen kuliahku, bukan gara-gara gak ketemu bukunya, tapi emang kebiasaan kalo buku berat ngopi aja, kalo novel baru beli XD
Versi e-book? Wah, aku ngga tau tuh, coba deh tanya om gugel.

11. Nanda - November 24, 2008

Kalo boleh tau, di mana saya bisa memperoleh buku ini? Saya cari di beberapa toko buku tapi enggak ada. Ada versi e-book-nya nggak?
Thanks.

12. sandy - November 22, 2008

hi…salam kenal ya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers