Posted by: kyla on: Mei 16, 2009
Hanako memandang Hide dari tandu tempatnya terbaring. Dia sangat bangga pada suaminya itu. Dalam setiap krisis, dia menjadi semakin dewasa, semakin berani, dan lebih terfokus. Bahkan, postur tubuhnya saat menunggang kuda sudah berubah. Dia benar-benar menjadi samurai sejati seperti yang dia tahu sejak dahulu. Yang kurang hanyalah dia tidak memiliki istri yang pantas untuk kedudukannya sekarang.
Hanako berkata, “Aku membebaskanmu dari perkawinan kita,” dan memalingkan kepalanya. Tak ada air mata di matanya, dan dia mengontrol napasnya sehingga tidak terlihat dia sedang sedih.
Hide berkata kepada Taro yang berkuda di sampingnya, “Dia mengigau.”
Hanako berkata lagi, “Aku tak lagi pantas menjadi istrimu”.
Taro berkata kepada Hide, “Ya, pasti mengigau. Bahkan, prajurit terhebat pun kalau menderita luka parah kadang mengigau tak tentu arah setelahnya. Kurasa penyebabnya adalah kehilangan banyak darah dan terguncang.”
Hanako berkata, “Kau butuh teman hidup yang tidak cacat, yang dapat berjalan di belakangmu tanpa membawa malu dan hinaan.”
Hide dan Taro terus mengabaikannya. Hide berkata, “Kau lihat bagaimana dia melemparkan tubuhnya di depan tebasan pedang?”
“Hebat”, kata Taro. “Aku biasanya melihat aksi itu di drama kabuki, tak pernah di dunia nyata.”
“Setiap kali aku melihat lengan bajunya yang kosong,” kata Hide, “aku akan mengingat dengan penuh rasa terima kasih atas pengorbanan yang dia lakukan untuk menyelamatkan nyawaku.”
“Aku tak bisa memegang nampan,” kata Hanako, “aku juga tak bisa memegang teko teh dan botol sake dengan pantas. Siapa yang tahan dilayani orang cacat yang hanya punya satu tangan?”
“Untungnya dia masih punya tangan pedangnya,” kata Taro. “Siapa yang tahu suatu saat kamu membutuhkannya lagi di sampingmu?”
“Benar,” kata Hide. “Dan satu tangan lebih dari cukup untuk menggendong bayi dan menyusuinya, atau memegang tangan anak saat dia belajar berjalan.”
Hanako tak dapat menahan dirinya lagi. Dia gemetar oleh emosi. Air mata cinta dan terima kasih mengalir deras dari matanya. Dia ingin berterima kasih kepada Hide atas ketabahannya, tetapi kata-katanya tertelan sedu-sedan.
Taro permisi dengan membungkuk dan memacu kudanya ke barisan belakang. Di sana, di antara mantan para pengikut Mukai, dia juga menangis tanpa malu.
Untuk pertama kalinya, mata Hide tetap kering. Dengan kontrol diri ketat yang dia pelajari dalam pertempuran, dia tak membiarkan setetes pun air matanya jatuh, dan tak ada sedan yang menggetarkan tubunya. Kesedihannya atas luka Hanako tak perlu dipertanyakan lagi, tetapi itu tak sebanding dengan rasa hormat yang dia rasakan terhadap keberanian istrinya yang menyerupai seorang samurai dan cintanya yang semakin tumbuh besar.
Kejamnya perang dan kegembiraan cinta. Keduanya sesungguhnya adalah satu.
Hide duduk tegak di pelananya dan berkuda dengan penuh keyakinan menuju Edo.
*sumber: Samurai Buku 1 : Kastel Awan Burung Gereja (Takashi Matsuoka), halaman 732-734
komentar terbaru