we are here to live, not to sit on couch

230609

Posted by: kyla on: Juni 23, 2009

ini adalah sepotong kisah Mr. Eko.
Ada dua orang kakak beradik, Eko dan Yemi, yang diasuh di panti asuhan yang (barangkali) dikelola oleh sebuah gereja kecil di Nigeria.
Suatu hari, sekawanan orang bersenjata datang ke daerah mereka, mengacau. Mereka menarik Yemi ke tengah-tengah kerumunan, memberikan sebuah pistol kepadanya, menyuruhnya menembak seorang pria tua di depannya. Yemi ketakutan, gemetaran memegang pistolnya. Sang kakak, Eko, yang berdiri di belakangnya, merebut pistol dari tangan Yemi, menembak pria tua itu, tanpa ragu-ragu. Kawanan bersenjata pun bertepuk tangan, mengagumi keberanian Eko. Mereka lalu mengambilnya, membawanya pergi, dan pada akhirnya menjadikannya sebagai bagian dari mereka.
Ketika dewasa, Yemi mengabdi sebagai seorang pendeta. Di sebuah kesempatan, ia bertemu kembali dengan kakaknya. Yemi meminta kakaknya untuk mengakui kejahatannya, dan memohon pengampunan. Eko, dengan hati yang sesak berkata, “Aku tidak memohon pengampunan. Aku tidak menyesali tindakanku dulu, sebagaimana aku tidak menyesali telah menyelamatkan jiwa dan hatimu. Aku bangga dengan tindakanku dulu, menyelamatkan nyawa adikku.”
***
ini adalah sepenggal kisah hidup Eko, Mister Eko, tokoh fiktif dalam serial LOST. Eko adalah satu dari beberapa karakter yang membuatku berpikir tentang tujuan dan proses. Tentu saja, kisahnya fiktif belaka, sama seperti pulau misterius yang juga hasil imajinasi J J Abrams. Tapi LOST punya banyak karakter yang memiliki kisah yang luar biasa. Luar biasa bagiku, tentunya. Ada nilai-nilai hidup yang berharga yang bisa ditemukan di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

yang mampir

  • 12,021 peziarah
"Begitulah hidupku, lengkap dengan kesalahan yang kuperbuat adalah kenyataan yang menggembirakan hatiku. Hidup, lengkap dengan kesalahan, sungguh merupakan kesempurnaan. Maka, memandangi kesalahan itu setiap kali sungguh sebuah kegembiraan"

Prie GS: Merenung Sampai Mati

tentang kyla

Lahir pertengahan tahun 1986 di daerah yang mendapat sebutan sekepal tanah surga, Kerinci. Setelah menamatkan 12 tahun sekolah di Kerinci, dengan berbekal semangat orang ndeso pergi merantau ke Medan untuk melanjutkan kuliah S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Pada tahun 2007 melanjutkan kuliah pascasarjana program studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor, namun selang enam bulan mengundurkan diri. Sekarang berdomisili di suatu tempat di Jambi.

About Me
Buku Tamu

arsip

Kategori

twitter