jadi begini ceritanya January 9, 2012
Posted by wawa in Thought Bubbles.trackback
Ok, well…
Pinjam-meminjam. Kata Rasul, kalo ada kawan yang lagi butuh dan kita capable untuk membantu, maka wajib hukumnya untuk kita bantu. Ok, I get it. But, what if those people whom we have helped (lending/ borrowing some things) acting like they never owe us anything? What if they refuse…postponing to repay? What if they keep answering “tomorrow…tomorrow…”, denying, neglecting, and in the worst case breaking a relationship with us?
I, somehowe, involve in these “ritual”. I sell stuffs and people pay their debt monthly. Some are responsible and aware of their debt. Some small portion, well, are..you know…not the nice one. I hate to directly remind them of their debt. (FYI, they already learn the rules and FAQ about how-to pay their debt.) I refuse to be a debt collector. Money is a sensitive issue. It is no denial.
Siapa juga yang mau rugi….
Aku senang jika mereka bayar tepat waktu. Dengan begitu, aku bisa “memutar” dana tersebut sebagai modal lagi. Jika macet, usahaku juga macet. Usahaku belum berkembang. Modal kecil, masi usaha kecil-kecilan.
Aku ga pelit. Untuk mereka yang ku kategorikan “bertanggungjawab” tadi, aku malah dengan senang hati memberi diskon untuk mereka.
Yaaa….kadang aku menenangkan hatiku dengan berkata, “Ga pa-pa. Kalo mereka ga bayar di dunia, toh di akherat nanti mereka akan pontang-panting nyari2 aku untuk bayar utang biar bisa masuk surga”. Tapi, ah…, ngomongin surga-neraka dengan orang-orang ini…, aku ragu apa mereka percaya dengan kehidupan setelah kematian.
Kadang aku dengan sangat..sangat…berat (langkah dan bibir) terpaksa mengingatkan mereka, dengan suara sedikit bergetar. Setelah itu, hubunganku dengan mereka jadi “kering”. Mereka jadi menyindir-nyindir aku. Lha, kenapa aku pula sih yang salah? Mereka jadi menjelek-jelekkan aku. Duh!
IDK
Aku ga pintar dalam menyembunyikan raut wajah. Kepada orang-orang yang not-nice tadi, aku sulit untuk memandang mereka dengan ekspresi manis. Bahkan seluruh tindak-tanduk mereka aku ga suka. Berinteraksi dengan mereka pun aku malas. Aku ga bisa berpura-pura.
***aku nulis ini karena lagi sempit. Modal numpuk di hutang-hutang yang belum terbayarkan. Sedangkan dalam bulan ini perlu uang yang cukup banyak untuk nebus barang. Kenapa juga aku tulis di sini? Karena ga tau mau cerita ke siapa. Ada kawanku di kantor ga mau dengar keluhanku. Ngomong sama ortu, ga lah…ini bukan perkara mereka. Ngomong ke kawan lain. Siapa?
Tiba-tiba aku sadar ya…, nyari kawan yang mau cerita itu banyak. Tapi kawan yang mau mendengarkan itu…susah.

Comments»
No comments yet — be the first.