we are here to live, not to sit on couch

Sajak-sajak SJD #2

Posted by: kyla on: September 21, 2009

AKULAH SI TELAGA

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
– perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PERAHU KERTAS

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.  Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUTERKA GERIMIS

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu

Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KEPOMPONG ITU

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan

kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga

dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK TELUR

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SIHIR HUJAN

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
– swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- – menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

AIR SELOKAN

“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari minggu pagi.  Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
– ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
“Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu — alangkah indahnya!”
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUKIRIMKAN PADAMU

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.

Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TAJAM HUJANMU

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KISAH

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu.  Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK KECIL TENTANG CINTA

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA

Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

HUTAN KELABU

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

HATIKU SELEMBAR DAUN

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…

DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

BUAT NING

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

“Menyingkap Karen” dan Billy

Posted by: kyla on: September 10, 2009

Ketika membaca review sebuah novel Psikologi “Menyingkap Karen”, aku teringat Billy. Novel ini juga berkisah tentang penderita Multiple Personality Disorder dan child abuse, yang juga dialami oleh Billy. Barangkali memang ada hubungan antara child abuse dengan kepribadian yang terpecah. Aku ingin sekali memiliki novel ini *semoga dibawain kakakku pas lebaran nanti :-) Aku memang suka kisah tentang child abuse dan kepribadian ganda :-)

Membaca BILLY membuat hatiku tercabik-cabik. Aku bisa membayangkan dengan jelas kengerian yang dialami Billy. Kepiluannya atas kepergian ayahnya. Kesepiannya saat kecil ketika tak ada yang mau bermain dengannya, hingga akhirnya tercipta pribadi pertama-nya (Christene). Kebingungannya atas “hilangnya waktu”. Siksaan ayah tirinya. Kesedihannya, hingga sesaat sebelum ia melompat dari atap sekolahnya untuk bunuh diri. Dan akhirnya Billy tertidur. Ia baru 16 tahun. Kesadarannya diambil-alih oleh Arthur dan Ragen secara bergantian. Bertahun-tahun ia ditidurkan. Dan ketika ia terjaga, ia hanya mengingat momen ketika ia hendak melompat bunuh diri, ketika ia berusia 16 tahun.

Kisah buku pertama BILLY memang memilukan. Ketika ia dipenjara di Lebanon, berpindah-pindah Rumah Sakit Jiwa, perlakuan tidak adil yang diterimanya, sungguh berat bagi pribadi-pribadinya yang masih kecil, terutama David dan Danny. Aku kagum pada sosok Arthur yang bijak, dewasa, dan cerdas namun cukup pengecut untuk bersikap defensif. Untungnya kekurangan ini bisa diatasi oleh Ragen, jadi sangat wajar jika hanya mereka berdua yang berhak menguasai kesadaran.

Dia sempat menjadi Sang Guru di bawah bimbingan dr. David Caul, suatu penyatuan keseluruhan pribadinya menjadi sosok yang utuh, yang mengingat secara detil segala yang dialami masing-masing pribadi, yang mengajari mereka untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Namun Sang Guru sangat rapuh, sedikit gangguan bisa membuatnya menghilang dan terpecah.

Dibandingkan buku ke-dua, aku lebih menyukai buku pertama. Buku pertama lebih banyak bercerita tentang masa kecil Billy hingga penyatuan dirinya menjadi Sang Guru. Termasuk di dalamnya kisah tentang penyiksaan-penyiksaan yang dialaminya, pribadi-pribadi yang muncul, keterlibatannya dalam aksi kriminal, juga kedekatannya dengan adiknya (Cathy), istrinya (Tanya) yang menipunya, serta kepiawaiannya dalam melukis. Buku ke-dua (Pertarungan Jiwa Billy) lebih banyak tentang kehidupannya di Rumah Sakit Jiwa dan perjuangannya melawan ketidak-adilan di dalam rumah sakit tersebut. Buku ke-dua berakhir hingga hari kebebasan Billy, setelah hampir dua puluh tahun mendekam dalam penjara dan rumah sakit jiwa. Aku suka epilog-nya, ketika Billy dan Keyes berkunjung ke pertanian tempat dulu ia biasa pergi bersama ayah tirinya, ke tempat yang sama dimana ia disiksa. Di sana, Billy menceritakan rasa sakit yang dirasakan David ketika ia dikubur hidup-hidup. Setelah mengungkapkan kebenciannya terhadap ayah tirinya (Chalmer Milligan), ia mengaku akan memaafkannya dan berkata:
“Aku berpikir, barangkali Papa Chal dulu juga pernah disiksa oleh Grandpa. Jika aku memaafkan Papa Chal, barangkali Papa Chal juga bisa memaafkan Grandpa, dan rantai siksaan ini akan terputus. Aku percaya pemaafan bisa menemukan jalannya ke masa lalu”
*kira-kira begitu, soalnya bukunya tinggal di kampung :p

Billy butuh penerimaan, bukan kecaman. Kini, tak ada yang tau di mana ia berada. Bersembunyi, pastinya. Jauh dari para pencari berita. Sakitnya tak pernah sembuh. Dia masih seorang William Stanley Milligan yang terdiri dari 24 orang.

*wherever you are, i just wish you’re okay.

Sajak-sajak Sapardi Joko Damono

Posted by: kyla on: September 4, 2009

NOKTURNO

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya
gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap

(Akuarium, 1974: 7)

Dear Pink
Mulai besok aku tak jemput kau lagi.
Soalnya, sehabis jemput aku tak bisa tidur
Terbayang wajahmu, terngiang suaramu
Tercium harum parfummu…
Sedang kau
Enak saja seakan tak terjadi apa-apa
Tidurmu lelap hingga subuh tiba
Pekerjaan rumah beres
Kau seperti tak ada soal.
Sedang aku bagai cacing kepanasan
Aku tetap mencintaimu
Tapi aku tak lagi mampu jemputmu
Walaupun menderu ingin bertemu.
Maafkanlah daku.

SAJAK ORANG GILA

I
aku bukan orang gila, saudara
tapi anak-anak kecil mengejek
orang-orang tertawa

ketika kukatakan kepada mereka: aku temanmu
beberapa anak berlari ketakutan
yang lain tiba melempari batu

II
aku menangis di bawah trembesi
di atas dahan kudengar seekor burung bernyanyi
anak-anak berkata: lucu benar orang gila itu
sehari muput menangis tersedu-sedu

orang-orang yang lewat di jalan
berkata pelan: orang itu sudah jadi gila
sebab terlalu berat menafsir makna dunia

III
sekarang kususuri saja sepanjang jalan raya
sambil bernyanyi: aku bukan orang gila
lewat pintu atau lewat jendela
nampak orang-orang menggelengkan kepala mereka:
kasihan orang yang dulu terlampau sabar itu
roda berputar, dan ia jadi begitu

IV
kupukul tong sampah dan tiang listrik
kunyanyikan lagu-lagu tentang lapar yang menarik
kalau hari ini aku tak makan lagi
jadi genap sudah berpuasa tiga hari

tapi pasar sudah sepi, sayang sekali
tak ada lagi yang memberikan nasi
ke mana aku mesti pergi, ke mana lagi

V
orang itu sudah lama gila, kata mereka
tapi hari ini begitu pucat tampaknya
apa kiranya yang telah terjadi padanya

akan kukatakan pada mereka: aku tidak gila!
aku orang lapar, saudara

VI
kudengar berkata seorang ibu:
jangan kalian ganggu orang gila itu, anakku
nanti kalian semua diburu

orang kota semua telah mengada-ada, aduhai
menuduhku yang sudah gila
aku toh cuma menangis tanpa alasan
tertawa-tawa sepanjang jalan
dan lewat jendela, tergeleng kepala mereka
kurus benar sejak ia jadi gila

Yogyakarta, ‘61

PENYAIR

aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku
satu per satu aku terbuka, bagai daun-daun pintu
hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi yang bernama rahasia;
begitu sederhana: samasekali terbuka
dan engkau selalu menjumpai dirimu sendiri di sana,
bersih dan telanjang, tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia.
jangan terkejut: memang dirimu sendirilah yang kau jumpa
di pintu yang terbuka itu-begitu sederhana
jangan gelisah, itulah tak lain dirimu sendiri,
kenyataan yang paling sederhana tapi barangkali yang menyakitkan hati.
aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu
dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di sana

(Basis, No.10, Th XV, Juli 1966)

KEPADA SEBUAH SAJAK

Dengan rendah hati kuserahkan kau kepada dunia
sebab bukan lagi milikku. Tegaklah
bagai seorang lelaki yang lahir dalam zaman
yang riuh rendah
dan memberontak.
Kulepas kau ke tengah pusaran topan
dari masalah manusia, sebab telah dilahirkan
tanpa ayah dan ibu.
Dari jemariku yang papa
kau pun menjelma secara gaib, wahai nurani alam
aku bukan asal-usulmu. Kutolakkan kepada dunia
nama baik serta nasibmu.
Aku tak lagi berurusan denganmu.
Sekali kau lahir lewat tangan-tanganku, tegaklah
seperti lelaki yang tanpa ibu-bapa
mempertahankan nasibnya sendiri
terhadap gergaji waktu.

(Basis, No.8, Th XVI, Mei 1967)

SAJAK

pergilah kerna malam sudah reda. Kau menolehku
ke padang mana lagi, ke laut
(mencapai sunyi)
tapi sudah tiba saatnya, berdukalah.

(duka-Mu abadi, 1975: 38)

SAAT SEBELUM BERANGKAT

mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama

sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti

(duka-Mu abadi, 1975: 10)

BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam menghirup
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia.

di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya

(duka-Mu abadi, 1975: 11)

SEHABIS MENGANTAR JENAZAH

masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja

pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi-mimpi kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya

masih adakah? Alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba

(duka-Mu abadi, 1975: 12)

HUJAN DALAM KOMPOSISI, I

“Apakah yang kautangkap dalam swara hujan,
Dari daun-daun bugenvil basah yang teratur
Mengetuk jendela? Apakah yang kau tangkap
Dari bau tanah, dari ricik air
Yang turun di selokan?”

Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah
Dan hujan, membayangkan rahasia daun basah
Serta ketakutan yang berulang.

“Tidak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri
Yang di balik pintu memimpikan ketukan itu,
Memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan
Bisik yang membersit dari titik air
Menggelincir dari daun dekat jendela itu.
Atau memimpikan semacam suku kata
Yang akan mengantarmu tidur.”

Barangkali sudah terlalu sering ia
Mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya.

(Mata Pisau, 1982: 13)

KWATRIN

Semalam suntuk suara napasmu merapat di dinding lalu terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau terbangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini sudah bukan lagi milikmu
Kaubuka jendela:
Cahaya matahari meloncat ke dalam dan tampak olehmu
Seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai menjelma semacam gas namun masih kau dengar engahnya mendaki berkas-berkas sinar matahari

(Akuarium, 1974: 11)

HUJAN BULAN JUNI

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, 1994:90)

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Hujan Bulan Juni, 1994: 91)

YANG LEWAT

Yang berkelebat lewat itu?
Yang tak putus-putusnya bergegas itu?

Yang tak hendak membedakan berangkat atau kembali.
Sampai atau pergi, kemarin atau nanti, ke sana atau kemari

(Mata Jendela, 2001: 73

#310809

Posted by: kyla on: Agustus 31, 2009

Udah lama ngga mampir ke sini. Terserang penyakit malas memang parah nian pulihnya.
Beberapa waktu yang lalu aku sakit, periksa ke beberapa dokter, ada dua dokter yang ngasi diagnosa yang beda. Dasar dokter odong-odong. Yang satu dokter umum, yang satu dokter spesialis. Yang spesialis ini yang bikin keki, masa cuma diliat sekilas langsung memvonis kena penyakit X. Dari awal aku udah nolak, tapi ya karena ngerasa dia spesialis, jelas dia ga mau terima. Akhirnya cek labor, hasilnya negatif. M****s ko!

Ada yang menyedihkan dengan sakit-ku ini. Pasalnya, sakit-ku datang bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan dan diklat prajabatan. Al hasil, shaum-ku terpotong, diklat juga ga bisa ikutan. Menyedihkan…

O iya, aku baru tau kalo ternyata Keane uda ngerilis album baru, Perfect Symmetry. Aku baru donlot mp3 Perfect Symmetry-nya doang, dan review-ku: KEREN!

as the needle slips into the run out groove
Love, maybe you feel it too

spineless dreamers, hide in churches
pieces of pieces of rush hour buses
I dream in emails, worn out phrases
mile after mile of just empty pages

Aku akhir-akhir ini sering membayangkan wajah-wajah Kak Leli, Alam, Fatira, Farid, dan Bang Arif: “keluarga”-ku di Medan dulu. Kabarnya mereka dah pindah karena Bang Arif dah tamat spesialis, kerja di Kabupaten lain. Aku suka si kecil Alam, ketawa kecil-nya manis sekali :-) dan ngomongnya masih suka di-cadel-cadelin.

Waktu sakit kemaren, aku pernah mimpi jadi superhero. Tiba-tiba aja aku bisa terbang. Duh…senangnyaaa…bisa terbang. Indah sekali rasanya melayang-layang, terbang di langit malam. Tapi sebagai superhero, pasti ada musuhnya, dan dalam kasus ini musuhku adalah pemerintah yang berusaha menangkapku untuk dikurung dan jadi objek penelitian para ilmuwan. Akhirnya aku bersembunyi, hanya keluar malam hari. Ternyata ga enak jadi superhero. Ga bisa bebas jadi diri sendiri, capek musti nyimpen rahasia, dan parahnya lagi, kalo ketauan siapa keluarga ato kerabat kita, mereka bakal diteror. Kasihan kan jadi orang hebat? Tapi, teteup aja enak rasanya bisa terbang. Melayang-layang…kayak Clark Kent. Ah…

Betewe, kalo dipikir-pikir, di antara superheroes yang populer, sebutlah Superman, Spiderman, Batman, Wolverine cs, Hulk, cuma Superman yang (menurutku) paling hebat. Bisa terbang, bisa x-ray, kekuatan super, trus ga ribet dengan berbagai macam gadget ala Batman dan ga cuma bisa lompat kesana-kemari macam Spidey. Superman emang paling hebat, tapi kostumnya jelek, kerenan si Spidey ;-)

John Ondrasik – King of the Earth

Posted by: kyla on: Agustus 9, 2009

I’m as crazy as a clown tonight
a clown without a crown tonight
a simple sack of wishes and bones.
I’m as useless as a memory
the day before it came to me
to save your time stitches and stones

But once in my life I was the king of the earth
once in my life,
I was.

I’ve flown horses on the skies above
that ain’t enough for you my love
to fill these empty castles with ghosts
I’ve married devils to their history
stood where you would bury me
through a time of statues and rows

But once in my life I was the king of the Earth
Once in my life
I was.

now that the stars have frozen in their places
all that I’ve hold seems gone
now that the stars have fallen from their faces
I will see you on

I’ll never be your picture present
but I hope you got the rose I sent
to save your town of stitches and bones
I’m nothing more than a simple man
born to be American
out to draw these bridges and motes

but once in my life I was the kind of the Earth
Once in my life…

*from August Rush Original Soundtrack. Film musikal yang indah…. :-)

090809

Posted by: kyla on: Agustus 9, 2009

i took a walk this afternoon. i love walking alone. i always do. i’m free to let my mind wandering while my eyes keep looking forward. i let my mind slips to the past or travels through the future or even reconstruct my biggest dream.

i simply love being alone and used to be uncomfortable if there’s anyone around, to be my company. but i dont wanna be alone, at home. what if there’s a ghost and nobody hear me screaming??? or fire??? or earthquake???

but i love being with a friend, an old from while i was in Medan. when she’s around, i know i’m not losing myself. we used to get busy playing with our own mind, but we still took care of each other.

we share the same traits, except she’s more pretty than me ;-)

people said, sometimes understanding others’ misery will help us solve our own mess.

Keane – Perfect Symmetry

Posted by: kyla on: Agustus 9, 2009

I shake through the wreckage for signs of life
Scrolling through the paragraphs
Clicking through the photographs

I wish I could make sense of what we do
Burning down the capitols
Wisest of the animals

Who are you, what are you living for
Tooth for tooth, maybe we’ll go one more

This life, is lived in perfect symmetry
What I do, that will be done to me

Write page after page of analysis
Looking for the final score
We’re no closer than we were before

Who are you, what are you fighting for
Holy truth, brother I chose this mortal life
lived in perfect symmetry

What I do, that will be done to me
As the needle, slips into the run out groove
Love, maybe you feel it too

And maybe you find, life is unkind
and over so soon
There is no golden gate
There’s no heaven waiting for you

Oh boy you otta leave this town
get out while you can
the needle’s running out
The voices in the streets you love
everything is better when you hear that shout
woooaohhh
woooaohhh
woooaohhh

spineless dreamers, hide in churches
pieces of pieces of rush hour buses
I dream in emails, worn out phrases
mile after mile of just empty pages

wrap yourself around me
wrap yourself around me

as the needle, slips into the run out groove
maybe i’ll feel it too
maybe you’ll feel it too
maybe you’ll feel it too
maybe you’ll feel it too

I dream in emails, worn out phrases
mile after mile of just empty pages

yang mampir

  • 12,021 peziarah
"Begitulah hidupku, lengkap dengan kesalahan yang kuperbuat adalah kenyataan yang menggembirakan hatiku. Hidup, lengkap dengan kesalahan, sungguh merupakan kesempurnaan. Maka, memandangi kesalahan itu setiap kali sungguh sebuah kegembiraan"

Prie GS: Merenung Sampai Mati

tentang kyla

Lahir pertengahan tahun 1986 di daerah yang mendapat sebutan sekepal tanah surga, Kerinci. Setelah menamatkan 12 tahun sekolah di Kerinci, dengan berbekal semangat orang ndeso pergi merantau ke Medan untuk melanjutkan kuliah S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Pada tahun 2007 melanjutkan kuliah pascasarjana program studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor, namun selang enam bulan mengundurkan diri. Sekarang berdomisili di suatu tempat di Jambi.

About Me
Buku Tamu

arsip

Kategori

twitter