Posted by: kyla on: September 21, 2009
AKULAH SI TELAGA
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
– perahumu biar aku yang menjaganya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
PERAHU KERTAS
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.
Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KUTERKA GERIMIS
Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KEPOMPONG ITU
kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan
kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga
dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
YANG FANA ADALAH WAKTU
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK TELUR
dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SIHIR HUJAN
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
– swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- – menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
AIR SELOKAN
“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
– ia hampir muntah karena bau sengit itu.
Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
“Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu — alangkah indahnya!”
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KUKIRIMKAN PADAMU
kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
TAJAM HUJANMU
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
KISAH
Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
PADA SUATU HARI NANTI
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…
Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
HUTAN KELABU
kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian
HATIKU SELEMBAR DAUN
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
GADIS KECIL
Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…
DALAM DIRIKU
dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…
dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…
dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…
dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…
DALAM BIS
langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona
sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…
BUAT NING
pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu
januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu
Posted by: kyla on: September 4, 2009
NOKTURNO
kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya
gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap
(Akuarium, 1974: 7)
Dear Pink
Mulai besok aku tak jemput kau lagi.
Soalnya, sehabis jemput aku tak bisa tidur
Terbayang wajahmu, terngiang suaramu
Tercium harum parfummu…
Sedang kau
Enak saja seakan tak terjadi apa-apa
Tidurmu lelap hingga subuh tiba
Pekerjaan rumah beres
Kau seperti tak ada soal.
Sedang aku bagai cacing kepanasan
Aku tetap mencintaimu
Tapi aku tak lagi mampu jemputmu
Walaupun menderu ingin bertemu.
Maafkanlah daku.
SAJAK ORANG GILA
I
aku bukan orang gila, saudara
tapi anak-anak kecil mengejek
orang-orang tertawa
ketika kukatakan kepada mereka: aku temanmu
beberapa anak berlari ketakutan
yang lain tiba melempari batu
II
aku menangis di bawah trembesi
di atas dahan kudengar seekor burung bernyanyi
anak-anak berkata: lucu benar orang gila itu
sehari muput menangis tersedu-sedu
orang-orang yang lewat di jalan
berkata pelan: orang itu sudah jadi gila
sebab terlalu berat menafsir makna dunia
III
sekarang kususuri saja sepanjang jalan raya
sambil bernyanyi: aku bukan orang gila
lewat pintu atau lewat jendela
nampak orang-orang menggelengkan kepala mereka:
kasihan orang yang dulu terlampau sabar itu
roda berputar, dan ia jadi begitu
IV
kupukul tong sampah dan tiang listrik
kunyanyikan lagu-lagu tentang lapar yang menarik
kalau hari ini aku tak makan lagi
jadi genap sudah berpuasa tiga hari
tapi pasar sudah sepi, sayang sekali
tak ada lagi yang memberikan nasi
ke mana aku mesti pergi, ke mana lagi
V
orang itu sudah lama gila, kata mereka
tapi hari ini begitu pucat tampaknya
apa kiranya yang telah terjadi padanya
akan kukatakan pada mereka: aku tidak gila!
aku orang lapar, saudara
VI
kudengar berkata seorang ibu:
jangan kalian ganggu orang gila itu, anakku
nanti kalian semua diburu
orang kota semua telah mengada-ada, aduhai
menuduhku yang sudah gila
aku toh cuma menangis tanpa alasan
tertawa-tawa sepanjang jalan
dan lewat jendela, tergeleng kepala mereka
kurus benar sejak ia jadi gila
Yogyakarta, ‘61
PENYAIR
aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku
satu per satu aku terbuka, bagai daun-daun pintu
hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi yang bernama rahasia;
begitu sederhana: samasekali terbuka
dan engkau selalu menjumpai dirimu sendiri di sana,
bersih dan telanjang, tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia.
jangan terkejut: memang dirimu sendirilah yang kau jumpa
di pintu yang terbuka itu-begitu sederhana
jangan gelisah, itulah tak lain dirimu sendiri,
kenyataan yang paling sederhana tapi barangkali yang menyakitkan hati.
aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu
dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di sana
(Basis, No.10, Th XV, Juli 1966)
KEPADA SEBUAH SAJAK
Dengan rendah hati kuserahkan kau kepada dunia
sebab bukan lagi milikku. Tegaklah
bagai seorang lelaki yang lahir dalam zaman
yang riuh rendah
dan memberontak.
Kulepas kau ke tengah pusaran topan
dari masalah manusia, sebab telah dilahirkan
tanpa ayah dan ibu.
Dari jemariku yang papa
kau pun menjelma secara gaib, wahai nurani alam
aku bukan asal-usulmu. Kutolakkan kepada dunia
nama baik serta nasibmu.
Aku tak lagi berurusan denganmu.
Sekali kau lahir lewat tangan-tanganku, tegaklah
seperti lelaki yang tanpa ibu-bapa
mempertahankan nasibnya sendiri
terhadap gergaji waktu.
(Basis, No.8, Th XVI, Mei 1967)
SAJAK
pergilah kerna malam sudah reda. Kau menolehku
ke padang mana lagi, ke laut
(mencapai sunyi)
tapi sudah tiba saatnya, berdukalah.
(duka-Mu abadi, 1975: 38)
SAAT SEBELUM BERANGKAT
mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama
sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti
(duka-Mu abadi, 1975: 10)
BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH
berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam menghirup
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia.
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
(duka-Mu abadi, 1975: 11)
SEHABIS MENGANTAR JENAZAH
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi-mimpi kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya
masih adakah? Alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
(duka-Mu abadi, 1975: 12)
HUJAN DALAM KOMPOSISI, I
“Apakah yang kautangkap dalam swara hujan,
Dari daun-daun bugenvil basah yang teratur
Mengetuk jendela? Apakah yang kau tangkap
Dari bau tanah, dari ricik air
Yang turun di selokan?”
Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah
Dan hujan, membayangkan rahasia daun basah
Serta ketakutan yang berulang.
“Tidak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri
Yang di balik pintu memimpikan ketukan itu,
Memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan
Bisik yang membersit dari titik air
Menggelincir dari daun dekat jendela itu.
Atau memimpikan semacam suku kata
Yang akan mengantarmu tidur.”
Barangkali sudah terlalu sering ia
Mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya.
(Mata Pisau, 1982: 13)
KWATRIN
Semalam suntuk suara napasmu merapat di dinding lalu terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau terbangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini sudah bukan lagi milikmu
Kaubuka jendela:
Cahaya matahari meloncat ke dalam dan tampak olehmu
Seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai menjelma semacam gas namun masih kau dengar engahnya mendaki berkas-berkas sinar matahari
(Akuarium, 1974: 11)
HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
(Hujan Bulan Juni, 1994:90)
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(Hujan Bulan Juni, 1994: 91)
YANG LEWAT
Yang berkelebat lewat itu?
Yang tak putus-putusnya bergegas itu?
Yang tak hendak membedakan berangkat atau kembali.
Sampai atau pergi, kemarin atau nanti, ke sana atau kemari
(Mata Jendela, 2001: 73
Posted by: kyla on: Agustus 31, 2009
Udah lama ngga mampir ke sini. Terserang penyakit malas memang parah nian pulihnya.
Beberapa waktu yang lalu aku sakit, periksa ke beberapa dokter, ada dua dokter yang ngasi diagnosa yang beda. Dasar dokter odong-odong. Yang satu dokter umum, yang satu dokter spesialis. Yang spesialis ini yang bikin keki, masa cuma diliat sekilas langsung memvonis kena penyakit X. Dari awal aku udah nolak, tapi ya karena ngerasa dia spesialis, jelas dia ga mau terima. Akhirnya cek labor, hasilnya negatif. M****s ko!
Ada yang menyedihkan dengan sakit-ku ini. Pasalnya, sakit-ku datang bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan dan diklat prajabatan. Al hasil, shaum-ku terpotong, diklat juga ga bisa ikutan. Menyedihkan…
O iya, aku baru tau kalo ternyata Keane uda ngerilis album baru, Perfect Symmetry. Aku baru donlot mp3 Perfect Symmetry-nya doang, dan review-ku: KEREN!
as the needle slips into the run out groove
Love, maybe you feel it too
spineless dreamers, hide in churches
pieces of pieces of rush hour buses
I dream in emails, worn out phrases
mile after mile of just empty pages
Aku akhir-akhir ini sering membayangkan wajah-wajah Kak Leli, Alam, Fatira, Farid, dan Bang Arif: “keluarga”-ku di Medan dulu. Kabarnya mereka dah pindah karena Bang Arif dah tamat spesialis, kerja di Kabupaten lain. Aku suka si kecil Alam, ketawa kecil-nya manis sekali
dan ngomongnya masih suka di-cadel-cadelin.
Waktu sakit kemaren, aku pernah mimpi jadi superhero. Tiba-tiba aja aku bisa terbang. Duh…senangnyaaa…bisa terbang. Indah sekali rasanya melayang-layang, terbang di langit malam. Tapi sebagai superhero, pasti ada musuhnya, dan dalam kasus ini musuhku adalah pemerintah yang berusaha menangkapku untuk dikurung dan jadi objek penelitian para ilmuwan. Akhirnya aku bersembunyi, hanya keluar malam hari. Ternyata ga enak jadi superhero. Ga bisa bebas jadi diri sendiri, capek musti nyimpen rahasia, dan parahnya lagi, kalo ketauan siapa keluarga ato kerabat kita, mereka bakal diteror. Kasihan kan jadi orang hebat? Tapi, teteup aja enak rasanya bisa terbang. Melayang-layang…kayak Clark Kent. Ah…
Betewe, kalo dipikir-pikir, di antara superheroes yang populer, sebutlah Superman, Spiderman, Batman, Wolverine cs, Hulk, cuma Superman yang (menurutku) paling hebat. Bisa terbang, bisa x-ray, kekuatan super, trus ga ribet dengan berbagai macam gadget ala Batman dan ga cuma bisa lompat kesana-kemari macam Spidey. Superman emang paling hebat, tapi kostumnya jelek, kerenan si Spidey
Posted by: kyla on: Agustus 9, 2009
I’m as crazy as a clown tonight
a clown without a crown tonight
a simple sack of wishes and bones.
I’m as useless as a memory
the day before it came to me
to save your time stitches and stones
But once in my life I was the king of the earth
once in my life,
I was.
I’ve flown horses on the skies above
that ain’t enough for you my love
to fill these empty castles with ghosts
I’ve married devils to their history
stood where you would bury me
through a time of statues and rows
But once in my life I was the king of the Earth
Once in my life
I was.
now that the stars have frozen in their places
all that I’ve hold seems gone
now that the stars have fallen from their faces
I will see you on
I’ll never be your picture present
but I hope you got the rose I sent
to save your town of stitches and bones
I’m nothing more than a simple man
born to be American
out to draw these bridges and motes
but once in my life I was the kind of the Earth
Once in my life…
*from August Rush Original Soundtrack. Film musikal yang indah….
Posted by: kyla on: Agustus 9, 2009
i took a walk this afternoon. i love walking alone. i always do. i’m free to let my mind wandering while my eyes keep looking forward. i let my mind slips to the past or travels through the future or even reconstruct my biggest dream.
i simply love being alone and used to be uncomfortable if there’s anyone around, to be my company. but i dont wanna be alone, at home. what if there’s a ghost and nobody hear me screaming??? or fire??? or earthquake???
but i love being with a friend, an old from while i was in Medan. when she’s around, i know i’m not losing myself. we used to get busy playing with our own mind, but we still took care of each other.
we share the same traits, except she’s more pretty than me
people said, sometimes understanding others’ misery will help us solve our own mess.
Posted by: kyla on: Agustus 9, 2009
I shake through the wreckage for signs of life
Scrolling through the paragraphs
Clicking through the photographs
I wish I could make sense of what we do
Burning down the capitols
Wisest of the animals
Who are you, what are you living for
Tooth for tooth, maybe we’ll go one more
This life, is lived in perfect symmetry
What I do, that will be done to me
Write page after page of analysis
Looking for the final score
We’re no closer than we were before
Who are you, what are you fighting for
Holy truth, brother I chose this mortal life
lived in perfect symmetry
What I do, that will be done to me
As the needle, slips into the run out groove
Love, maybe you feel it too
And maybe you find, life is unkind
and over so soon
There is no golden gate
There’s no heaven waiting for you
Oh boy you otta leave this town
get out while you can
the needle’s running out
The voices in the streets you love
everything is better when you hear that shout
woooaohhh
woooaohhh
woooaohhh
spineless dreamers, hide in churches
pieces of pieces of rush hour buses
I dream in emails, worn out phrases
mile after mile of just empty pages
wrap yourself around me
wrap yourself around me
as the needle, slips into the run out groove
maybe i’ll feel it too
maybe you’ll feel it too
maybe you’ll feel it too
maybe you’ll feel it too
I dream in emails, worn out phrases
mile after mile of just empty pages
komentar terbaru