we are here to live, not to sit on couch

101009

Posted by: kyla on: Oktober 11, 2009

Rasanya seperti menulis diary.
Aku melihat iring-iringan mobil yang membawa bantuan untuk korban gempa di Kerinci. Beramal sambil berpromosi. Atau, berpromosi sambil beramal?

***

Aku beli buku “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” (Salim A Fillah). Telat yaa…kayaknya temen2 yang tinggal di kota udah baca (*but what can I say, I live in a small town). Aku juga beli buku “The Winner Stands Alone” (Paulo Coelho). Nah, ini baru buku baru. Semoga kisahnya sebagus Sang Alkemis.

091009

Posted by: kyla on: Oktober 11, 2009

“usaha sudah selesai. sisanya kuserahkan kepada-Mu. Syukur atas keajaibanMu karena telah memudahkanku hari ini.”

Hal yang lazim kulakukan dalam perjalanan pergi atau pulang adalah terdiam dan merenung. Selama perjalanan pulang semalam, aku memikirkan tentang makna “everything happens for a reason”. Pekerjaanku sekarang ibarat mendapat durian jatuh, karena aku tidak benar-benar mengharapkan dan memperjuangkannya. Menyenangkan punya pekerjaan, lebih menyenangkan punya penghasilan sendiri. Belajar mandiri, mengelola keuangan, belajar menabung dan memikirkan financial security untuk masa depan. Dengan bekerja, aku bisa mengistirahatkan otak setelah belajar belajar dan belajar selama tujuh belas tahun. 17 tahun….ckckck… Kurasa, bekerja adalah pilihan yang tepat setelah tujuh belas tahun aku terus fokus dan serius belajar, jadi sudah sewajarnya aku bersantai sejenak. Membeli dan membaca buku-buku yang kusuka (namun dulunya tak sanggup kubeli), sewa dan nonton film-film yang dulunya tak sempat kutonton, dan melakukan hal-hal yang kusuka. Tentu saja stage ini tak hanya berisi fun. Ada juga fase depresi di awal masa kerja karena sulit beradaptasi dengan lingkungan kerja yang kontras bedanya dengan lingkungan kampus. “Meski tak bisa mewarnai, setidaknya jangan sampai terwarnai”, ujar temanku. Cukup sulit untuk bertahan, pada awalnya. Aku masih belum menemukan peranku di sini. Masih belum menemukan the reason why I am here, but I believe that I’m gonna find it out anyway. Dan aku bersyukur atas berkah ini. Bersyukur atas hal-hal yang bisa kunikmati yang dulunya aku tak bisa. Dan adalah tugasku untuk mempertahankannya.

Dan kesempitan ini. Ugh..sesak menghimpit. Aku selalu meminta untuk bisa “tumbuh”, dan kesempitan ini membuatku merasa mulai “membesar”. Tentu saja selalu ada alasan untuk setiap peristiwa. With You, I’m gonna make it right.

071009

Posted by: kyla on: Oktober 11, 2009

“dari kejauhan terlihat setitik kemudahan
semoga dengan semakin melangkah lurus ke arahnya, cahyanya ‘kan semakin terang”

Sejak batal mengikuti diklat prajabatan bulan Ramadhan kemaren, aku dilanda perasaan takut. Soalnya, aku sudah 14 bulan menjadi CPNS dan kalo dah lewat dua tahun belom diklat, bisa-bisa gugur, ibaratnya di-PHK. Membayangkan hidup jadi pengangguran….doh! aku tak mau.

Aku merasa bersalah dan ini merupakan double burden, bagiku dan keluargaku. Kalau aku yang kecewa, itu sudah hal biasa, tapi mengecewakan keluargaku, itu adalah hal paling menyakitkan bagiku.

Dalam masa sulit ini, aku tiba-tiba teringat untuk menghubunginya. Ternyata hanya butuh waktu lima menit bagiku untuk mengumpulkan keberanian dan bicara tanpa ragu. Terkejut ku dapati suaranya masih seperti yang dulu, begitu juga cara bicaranya. Dan dia masih helpful sebagaimana biasanya. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana kedekatan kami, karena interaksi kami hanya sebatas transaksi pinjam-meminjam buku, catatan kuliah, fotokopian slide, disket, makalah, tugas, soal ujian, dan segala bantuan akademis. Aku sangat terbantu dengan kebaikannya, atau lebih tepat…kewajibannya sebagai “kakak asuh”. There’s no way to go back. I can’t change the past cuz I don’t have the power to manipulate time. But even if I do, whatever happened happen. It came at the wrong time, I wasn’t ready. I’m sorry.

Lebaran kemaren, aku gagal lagi bertemu kembali dengan teman SMA-ku. Dua kali lebaran kami tak bertemu muka. Ironis, rumahku dan rumahnya hanya beda lorong, namun jarak yang kira-kira seratusan meter itu terasa jauh sekali. Barangkali ini juga menggambarkan kedekatan kami yang kian jauh. Aku masih menyimpan foto-foto SMA, aku dan dia dan kawan-kawan lainnya, namun aku sudah lupa bagaimana rasanya.

Aku senang sekali kakakku membawakan banyak “pesananku” selama setahun. Tentu saja yang paling ku tunggu-tunggu adalah serial LOST Season 5. Ceritanya semakin seru, semakin rumit, dan semakin membingungkan. Beuh…, John Locke asli udah mati, Ben semakin menjengkelkan dengan perannya yang sekarang. Kemampuan manipulasinya semakin tumpul. Jack mulai “menumbuhkan” karakter Locke, sikapnya semakin mirip Locke. That’s what i love, a man of faith, not a man of science like he used to be. 3 tahun di 1977 sudah membuat Sawyer semakin dewasa. Yang paling mengharukan adalah sikap Juliet, meledakkan hydrogen bomb, berharap bisa “mengubah waktu”. “If I never met you, then I’ll never lose you” – Juliet. Aku semakin tak sabar menunggu Pebruari 2010 untuk menyaksikan Season terakhirnya.

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari

Posted by: kyla on: September 23, 2009

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Sapardi Djoko Damono

Sajak-sajak SJD #2

Posted by: kyla on: September 21, 2009

AKULAH SI TELAGA

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
– perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PERAHU KERTAS

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua.  Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUTERKA GERIMIS

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu

Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu
Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KEPOMPONG ITU

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan

kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga

dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK TELUR

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SIHIR HUJAN

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
– swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- – menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

AIR SELOKAN

“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari minggu pagi.  Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
– ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:
“Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu — alangkah indahnya!”
Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUKIRIMKAN PADAMU

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.

Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TAJAM HUJANMU

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KISAH

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu.  Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK KECIL TENTANG CINTA

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku

PADA SUATU HARI NANTI

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA

Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

HUTAN KELABU

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

HATIKU SELEMBAR DAUN

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang,ada pohon
dan seekor burung…

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya…

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya…

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya…

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya…

DALAM BIS

langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

BUAT NING

pasti datangkah semua yang ditunggu
detik-detik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember…
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

“Menyingkap Karen” dan Billy

Posted by: kyla on: September 10, 2009

Ketika membaca review sebuah novel Psikologi “Menyingkap Karen”, aku teringat Billy. Novel ini juga berkisah tentang penderita Multiple Personality Disorder dan child abuse, yang juga dialami oleh Billy. Barangkali memang ada hubungan antara child abuse dengan kepribadian yang terpecah. Aku ingin sekali memiliki novel ini *semoga dibawain kakakku pas lebaran nanti :-) Aku memang suka kisah tentang child abuse dan kepribadian ganda :-)

Membaca BILLY membuat hatiku tercabik-cabik. Aku bisa membayangkan dengan jelas kengerian yang dialami Billy. Kepiluannya atas kepergian ayahnya. Kesepiannya saat kecil ketika tak ada yang mau bermain dengannya, hingga akhirnya tercipta pribadi pertama-nya (Christene). Kebingungannya atas “hilangnya waktu”. Siksaan ayah tirinya. Kesedihannya, hingga sesaat sebelum ia melompat dari atap sekolahnya untuk bunuh diri. Dan akhirnya Billy tertidur. Ia baru 16 tahun. Kesadarannya diambil-alih oleh Arthur dan Ragen secara bergantian. Bertahun-tahun ia ditidurkan. Dan ketika ia terjaga, ia hanya mengingat momen ketika ia hendak melompat bunuh diri, ketika ia berusia 16 tahun.

Kisah buku pertama BILLY memang memilukan. Ketika ia dipenjara di Lebanon, berpindah-pindah Rumah Sakit Jiwa, perlakuan tidak adil yang diterimanya, sungguh berat bagi pribadi-pribadinya yang masih kecil, terutama David dan Danny. Aku kagum pada sosok Arthur yang bijak, dewasa, dan cerdas namun cukup pengecut untuk bersikap defensif. Untungnya kekurangan ini bisa diatasi oleh Ragen, jadi sangat wajar jika hanya mereka berdua yang berhak menguasai kesadaran.

Dia sempat menjadi Sang Guru di bawah bimbingan dr. David Caul, suatu penyatuan keseluruhan pribadinya menjadi sosok yang utuh, yang mengingat secara detil segala yang dialami masing-masing pribadi, yang mengajari mereka untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Namun Sang Guru sangat rapuh, sedikit gangguan bisa membuatnya menghilang dan terpecah.

Dibandingkan buku ke-dua, aku lebih menyukai buku pertama. Buku pertama lebih banyak bercerita tentang masa kecil Billy hingga penyatuan dirinya menjadi Sang Guru. Termasuk di dalamnya kisah tentang penyiksaan-penyiksaan yang dialaminya, pribadi-pribadi yang muncul, keterlibatannya dalam aksi kriminal, juga kedekatannya dengan adiknya (Cathy), istrinya (Tanya) yang menipunya, serta kepiawaiannya dalam melukis. Buku ke-dua (Pertarungan Jiwa Billy) lebih banyak tentang kehidupannya di Rumah Sakit Jiwa dan perjuangannya melawan ketidak-adilan di dalam rumah sakit tersebut. Buku ke-dua berakhir hingga hari kebebasan Billy, setelah hampir dua puluh tahun mendekam dalam penjara dan rumah sakit jiwa. Aku suka epilog-nya, ketika Billy dan Keyes berkunjung ke pertanian tempat dulu ia biasa pergi bersama ayah tirinya, ke tempat yang sama dimana ia disiksa. Di sana, Billy menceritakan rasa sakit yang dirasakan David ketika ia dikubur hidup-hidup. Setelah mengungkapkan kebenciannya terhadap ayah tirinya (Chalmer Milligan), ia mengaku akan memaafkannya dan berkata:
“Aku berpikir, barangkali Papa Chal dulu juga pernah disiksa oleh Grandpa. Jika aku memaafkan Papa Chal, barangkali Papa Chal juga bisa memaafkan Grandpa, dan rantai siksaan ini akan terputus. Aku percaya pemaafan bisa menemukan jalannya ke masa lalu”
*kira-kira begitu, soalnya bukunya tinggal di kampung :p

Billy butuh penerimaan, bukan kecaman. Kini, tak ada yang tau di mana ia berada. Bersembunyi, pastinya. Jauh dari para pencari berita. Sakitnya tak pernah sembuh. Dia masih seorang William Stanley Milligan yang terdiri dari 24 orang.

*wherever you are, i just wish you’re okay.

Sajak-sajak Sapardi Joko Damono

Posted by: kyla on: September 4, 2009

NOKTURNO

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya
gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap

(Akuarium, 1974: 7)

Dear Pink
Mulai besok aku tak jemput kau lagi.
Soalnya, sehabis jemput aku tak bisa tidur
Terbayang wajahmu, terngiang suaramu
Tercium harum parfummu…
Sedang kau
Enak saja seakan tak terjadi apa-apa
Tidurmu lelap hingga subuh tiba
Pekerjaan rumah beres
Kau seperti tak ada soal.
Sedang aku bagai cacing kepanasan
Aku tetap mencintaimu
Tapi aku tak lagi mampu jemputmu
Walaupun menderu ingin bertemu.
Maafkanlah daku.

SAJAK ORANG GILA

I
aku bukan orang gila, saudara
tapi anak-anak kecil mengejek
orang-orang tertawa

ketika kukatakan kepada mereka: aku temanmu
beberapa anak berlari ketakutan
yang lain tiba melempari batu

II
aku menangis di bawah trembesi
di atas dahan kudengar seekor burung bernyanyi
anak-anak berkata: lucu benar orang gila itu
sehari muput menangis tersedu-sedu

orang-orang yang lewat di jalan
berkata pelan: orang itu sudah jadi gila
sebab terlalu berat menafsir makna dunia

III
sekarang kususuri saja sepanjang jalan raya
sambil bernyanyi: aku bukan orang gila
lewat pintu atau lewat jendela
nampak orang-orang menggelengkan kepala mereka:
kasihan orang yang dulu terlampau sabar itu
roda berputar, dan ia jadi begitu

IV
kupukul tong sampah dan tiang listrik
kunyanyikan lagu-lagu tentang lapar yang menarik
kalau hari ini aku tak makan lagi
jadi genap sudah berpuasa tiga hari

tapi pasar sudah sepi, sayang sekali
tak ada lagi yang memberikan nasi
ke mana aku mesti pergi, ke mana lagi

V
orang itu sudah lama gila, kata mereka
tapi hari ini begitu pucat tampaknya
apa kiranya yang telah terjadi padanya

akan kukatakan pada mereka: aku tidak gila!
aku orang lapar, saudara

VI
kudengar berkata seorang ibu:
jangan kalian ganggu orang gila itu, anakku
nanti kalian semua diburu

orang kota semua telah mengada-ada, aduhai
menuduhku yang sudah gila
aku toh cuma menangis tanpa alasan
tertawa-tawa sepanjang jalan
dan lewat jendela, tergeleng kepala mereka
kurus benar sejak ia jadi gila

Yogyakarta, ‘61

PENYAIR

aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku
satu per satu aku terbuka, bagai daun-daun pintu
hingga akhirnya tak ada apa-apa lagi yang bernama rahasia;
begitu sederhana: samasekali terbuka
dan engkau selalu menjumpai dirimu sendiri di sana,
bersih dan telanjang, tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia.
jangan terkejut: memang dirimu sendirilah yang kau jumpa
di pintu yang terbuka itu-begitu sederhana
jangan gelisah, itulah tak lain dirimu sendiri,
kenyataan yang paling sederhana tapi barangkali yang menyakitkan hati.
aku akan selalu terbuka, seperti sebuah pintu, lebar-lebar bagimu
dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di sana

(Basis, No.10, Th XV, Juli 1966)

KEPADA SEBUAH SAJAK

Dengan rendah hati kuserahkan kau kepada dunia
sebab bukan lagi milikku. Tegaklah
bagai seorang lelaki yang lahir dalam zaman
yang riuh rendah
dan memberontak.
Kulepas kau ke tengah pusaran topan
dari masalah manusia, sebab telah dilahirkan
tanpa ayah dan ibu.
Dari jemariku yang papa
kau pun menjelma secara gaib, wahai nurani alam
aku bukan asal-usulmu. Kutolakkan kepada dunia
nama baik serta nasibmu.
Aku tak lagi berurusan denganmu.
Sekali kau lahir lewat tangan-tanganku, tegaklah
seperti lelaki yang tanpa ibu-bapa
mempertahankan nasibnya sendiri
terhadap gergaji waktu.

(Basis, No.8, Th XVI, Mei 1967)

SAJAK

pergilah kerna malam sudah reda. Kau menolehku
ke padang mana lagi, ke laut
(mencapai sunyi)
tapi sudah tiba saatnya, berdukalah.

(duka-Mu abadi, 1975: 38)

SAAT SEBELUM BERANGKAT

mengapa kita masih juga bercakap
hari hampir gelap
menyekap beribu kata di antara karangan bunga
di ruang semakin maya, dunia purnama

sampai tak ada yang sempat bertanya
mengapa musim tiba-tiba reda
kita di mana. Waktu seorang bertahan di sini
di luar para pengiring jenazah menanti

(duka-Mu abadi, 1975: 10)

BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH

berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam menghirup
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia.

di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya

(duka-Mu abadi, 1975: 11)

SEHABIS MENGANTAR JENAZAH

masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu? Hujan pun sudah selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap
di bawah bunga-bunga menua, musim yang senja

pulanglah dengan payung di tangan, tertutup
anak-anak kembali bermain di jalanan basah
seperti dalam mimpi-mimpi kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya

masih adakah? Alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba

(duka-Mu abadi, 1975: 12)

HUJAN DALAM KOMPOSISI, I

“Apakah yang kautangkap dalam swara hujan,
Dari daun-daun bugenvil basah yang teratur
Mengetuk jendela? Apakah yang kau tangkap
Dari bau tanah, dari ricik air
Yang turun di selokan?”

Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah
Dan hujan, membayangkan rahasia daun basah
Serta ketakutan yang berulang.

“Tidak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri
Yang di balik pintu memimpikan ketukan itu,
Memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan
Bisik yang membersit dari titik air
Menggelincir dari daun dekat jendela itu.
Atau memimpikan semacam suku kata
Yang akan mengantarmu tidur.”

Barangkali sudah terlalu sering ia
Mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya.

(Mata Pisau, 1982: 13)

KWATRIN

Semalam suntuk suara napasmu merapat di dinding lalu terjatuh satu demi satu di lantai
Pagi hari kau terbangun dan tercium olehmu bau yang mengingatkanmu akan sesuatu yang kini sudah bukan lagi milikmu
Kaubuka jendela:
Cahaya matahari meloncat ke dalam dan tampak olehmu
Seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai menjelma semacam gas namun masih kau dengar engahnya mendaki berkas-berkas sinar matahari

(Akuarium, 1974: 11)

HUJAN BULAN JUNI

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, 1994:90)

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Hujan Bulan Juni, 1994: 91)

YANG LEWAT

Yang berkelebat lewat itu?
Yang tak putus-putusnya bergegas itu?

Yang tak hendak membedakan berangkat atau kembali.
Sampai atau pergi, kemarin atau nanti, ke sana atau kemari

(Mata Jendela, 2001: 73

yang mampir

  • 12,867 peziarah
"Begitulah hidupku, lengkap dengan kesalahan yang kuperbuat adalah kenyataan yang menggembirakan hatiku. Hidup, lengkap dengan kesalahan, sungguh merupakan kesempurnaan. Maka, memandangi kesalahan itu setiap kali sungguh sebuah kegembiraan"

Prie GS: Merenung Sampai Mati

tentang kyla

Lahir pertengahan tahun 1986 di daerah yang mendapat sebutan sekepal tanah surga, Kerinci. Setelah menamatkan 12 tahun sekolah di Kerinci, dengan berbekal semangat orang ndeso pergi merantau ke Medan untuk melanjutkan kuliah S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Pada tahun 2007 melanjutkan kuliah pascasarjana program studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor, namun selang enam bulan mengundurkan diri. Sekarang berdomisili di suatu tempat di Jambi.

About Me
Buku Tamu

arsip

Kategori

twitter